Dee Lestari, Menemukan Cinta dan Kuliner Unik di Kulon Progo

Penulis kenamaan, Dee Lestari Apresiasi Bango, Program Petani Muda. Foto: bud

WartaPenaNews, Jakarta – Ketika diajak berkolaborasi dengan Bango, Program Petani Muda, serta hadirnya Bango, kemasan khusus Cita Malikka, Dee merasa tertarik dengan bahan utama kedelai hitam Malikka yang merupakan kolaborasi Bango dengan Universitas Gajah Mada.

Kedelai hitam lokal inilah yang menjadi bahan utama pembuatan kecap Bango, yang telah memberikan kelezatan asli pada kuliner Nusantara favorit Dee.

Dee menuliskan kembali kisah inspiratif cerita semi-dokumenter para petani pada Bango, kemasan khusus Cita Malikka.

Melalui pengamatan langsung ke petani di Kulon Progo, Dee merasa menemukan cinta yang unik antara petani dengan tanaman kedelai hitam Mallika.

“Cinta itu bisa dimaknai secara berlapis. Namun, Dee melihat langsung bahwa cinta petani kepada tanaman kedelai hitam Mallika memiliki energi, tidak terpolusi. Substansi yang ada di alam ada karena cinta diantaranya tanah, air, udara, serta tanaman, “kata Dee.

 

Cerita semi – dokumenter tulisan Dee Lestari

“Dari Tanah Tani Ke Piring Saji”

Bermula dari benih bernutrisi. Hingga ke wadah-wadah saji.Diracik ibu lintas generasi. Inilah kesah dan kisah. Suara hati sang petani.

Kisah inspiratif Rusdianto, yang menganggap dirinya sebagai petani paling “ngeyel”, (keras kepala), karena tidak mudah percaya, bahwa bertanam kedelai hitam lebih menguntungkan, lebih kuat dan hasil panennya lebih banyak. Setelah melihat kesuksesan teman-temannya sesama petani, dia baru mau mulai beralih bertanam kedelai hitam Mallika. Hasilnya? Bisa Anda baca di www.bango.co.id

Ikhwal interaksi Dee dengan keluarga petani Kulon Progo yang guyub, hangat dan ramah ketika menjamu tamu, serta wisata kuliner dengan menu khas yang belum pernah dinikmati sebelumnya, menjadi kisah lain yang tidak kalah menarik.

Ketika diajak makan di sebuah warung makan, Dee terkesan akan sajian Gudeg Manggar yang khas dan baru pertama kali di cicipinya. Tidak hanya lezat dan unik karena berbahan manggar, biji dari bakal bunga pohon kelapa. Gudeg Manggar menjadi angle tulisan menarik, karena merupakan kuliner bersejarah, dijadikan makanan perlambang atau simbol perlawanan rakyat, terhadap keluarga kraton yang pada masa itu berpihak kepada Belanda.

Kekinian, keluarga kraton rutin mengonsumsi Gudeg Manggar karena dipercaya mampu membuka aura cantik dari luar dan dalam.

Sebagai penulis kebanggaan Indonesia, Dee trampil mendeskrepsikan kuliner secara detil dan lengkap, dengan gaya bahasa menarik, sehingga mampu menyentuh dan mengaduk-aduk selera. Pembaca pun diajak berwisata kuliner dan menjadi lapar. Pembaca, khususnya milenial akan dibuat penasaran untuk ‘melahap’ isi cerita dari buku ini tanpa jeda. (bud)

 

ads

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here