Dwiki Dharmawan Trio Meramu Jazz Dengan Kendang Sunda

13
Foto: Bud

WartaPenaNews, Jakarta – Dwiki Dharmawan mendapat kehormatan untuk tampil di “Standard Bank Joy Off Jazz”, Festival Musik Jazz tahunan di Afrika Selatan, yang tahun 2019 ini memasuki penyelenggaraan ke 22.

Diplomasi Budaya Untuk Merayakan Cinta, Perdamaian dan Toleransi

“Tampil pada perhelatan musik di mancanegara, tidak hanya sebagai ekspresi diri melalui karya musik, tapi lebih dari itu merupakan ajang untuk merayakan cinta, perdamaian dan toleransi, melalui kemasan diplomasi budaya”, kata Dwiki.

Melalui karya-karyanya yang apik dan diterima masyarakat dunia, Dwiki mendapat penghargaan ” Gold Medal for Creativity”, dari WIPO ( World Intelectual Property Organization). Lebih lanjut Dwiki menyampaikan, “sudah saatnya Indonesia untuk senantiasa hadir di berbagai perhelatan musik terbaik dunia, sebagai bagian dari eksistensi dan pergaulan di kancah global,” ujarnya.

Musisi Jazz Indonesia Kian Memikat Dunia

Festival Jazz tertua di Afrika Selatan ini, rencananya akan diselenggarakan selama tiga hari, dari tanggal 26 hingga 28 September 2019, di Sandton Convention Center, Johannesburg, mengambil tema ” Live the Music – Jazz Unleashed”. Yang akan menghadirkan 350 penampil, penyanyi jazz dari mancanegara pada empat buah panggung.

Bintang-bintang jazz mancanegara yang akan tampil diantaranya Wynton Marsalis bersama Jazz at Lincoln Center Orchestra (USA), Moreira Chonguica (Mozambique), Roberto Fonsesca (Cuba), dan Lady Smith Black Mambazo (Afrika Selatan), serta Dwiki Dharmawan feat Sisonke Xonti (Indonesia dan Afrika Selatan).

Dwiki Dharmawan akan tampil dengan formasi Dwiki Dharmawan (Piano Akustik dan Synthesizer), Cucu Kurnia (Kendang Sunda), Rudi Zulkarnaen (Akustik dan Elektrik Bass), dan Ita Purnamasari (vocal), yang akan berkolaborasi dengan bintang jazz Afrika Selatan saxophonist Sisonke Xonti.

Sebagai penampil berpengalaman di lebih dari 70 negara, Dwiki akan memberi warna baru dengan membawakan delapan repertoire musik yang diambil dari album So Far So Close, Pasar Klewer, Rumah Batu, serta album barunya yang segera akan dirilis ” Hari Ketiga”. Pada setiap penampilannya, Dwiki senantiasa mengkolaborasikan dengan instrument tradisional Indonesia.

Salah satu lagu etnic yang diprediksi akan memukau penonton adalah Ilir-ilir, lagu dari Jawa Tengah ini merupakan karya Sunan Kalijaga ( Wali Songo), yang dijadikan media dakwah, berisi ajakan untuk berbenah diri, ketika masih ada waktu. Ita Purnamasari, memberi warna khas, dengan karakter vokal yang tidak banyak berubah.

Promosikan Wisata Tatar Pasundan

Batik dan mi instan Indonesia merupakan produk budaya yang sangat lekat dengan masyarakat Afrika Selatan. Nelson Mandela tokoh pejuang Apartheid (penindasan rasial) dan mantan presiden Afrika Selatan, hampir setiap hari mengenakan busana batik dalam beragam kegiatan. Nelson menjadi Brand Ambassador Batik dunia, “puji Dwiki.

Selain itu, masyarakat di sana sangat menggemari konsumsi mi instan Indonesia. Hal ini menjadi perhatian Dwiki dan timnya untuk mempromosikan budaya Indonesia khususnya Jawa Barat, diantaranya melalui produk fashion ketika mereka tampil. Dwiki dan Ita juga telah menyiapkan slayer batik yang akan diberikan kepada sesama musisi, maupun masyarakat penikmat musik jazz di sana. Sambil menyebar brosur, Dwiki berharap dapat mengundang banyak investor Afrika Selatan untuk menanamkan modalnya di Jawa Barat.

Bagi Dwiki dan Ita, upayanya ini akan dilakukan pula oleh musisi-musisi Indonesia yang tampil berkesenian di luar negeri. “Menjadi duta pariwisata sambil berkesenian, “katanya. (Bud)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here