Ini Penyebab Industri Keuangan Syariah Tak Pernah Tumbuh Signifikan

Ketua Umum Forum Warta Pena Solihin ketika menyerahkan cendramata kepada Direktur Eksekutif Indonesia Halal Watch, Dr. Ikhsan Abdullah usai jadi pembicara Diskusi Literasi Keuangan Syariah Goes To Campus 'Untungnya Memilih Produk Keuangan Syariah di Era Milineal' di Universitas Yarsi, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Kamis (26/9/19).

Jakarta, WartaPenaNews.com – Belum terintegrasinya industri halal secara komprehensif menjadi salah satu faktor penyebab lemahnya industri keuangan syariah. Padahal dari sisi industri, Indonesia berada dipoisisi ke-2 dibawah Malaysia.

“Lambannya perkembangan industri halal menyebabkan inklusi keuangan syarian di tanah air tak pernah tumbuh secara signifikan,” kata Direktur Eksekutif Indonesia Halal Watch, Dr. Ikhsan Abdullah dalam Diskusi Literasi Keuangan Syariah Goes To Campus bertemakan ‘Untungnya Memilih Produk Keuangan Syariah di Era Milineal’ yang diselenggarakan Forum Warta Pena (FWP) dan Universitas Yarsi, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Kamis (26/9/19).

Idealnya, lanjut dia, industri keuangan syariah dan industri halal bisa terintegrasi dengan baik agar bisa tumbuh bersamaan. Apalagi mulai tanggal 17 Oktober mendatang, Undang-undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal mulai diberlakukan.

“Industri keuangan syariah tak akan tumbuh bila tidak dibarengi oleh pertumbuhan industri halal,” tegas dia.

Sementara itu, Kepala Sub Bagian Perizinan Perbankan Syariah OJK, Asep Sudirman mengungkapkan, pengembangan bisnis keuangan syariah di Indonesia memiliki peluang begitu besar karena didukung jumlah populasi penduduk muslim terbesar ke-4 dunia, sebanyak 265 juta (2018).

“Fenomena gelombang relijiusitas kalangan milenial, public figure, professional serta usaha industri halal yang semakin berkembang dan menjadi tren antara lain dibidang fashion, farmasi dan kosmetik, food and beverage, dll,” katanya.

Berdasarkan The Most Developed Islamic Finance Market (Thomson Reuters, 2018) menempatkan Indonesia pada posisi ke-10 di dunia. Salah satu indikator yang menarik riset ini menempatkan Indonesia rangking ke-2 jumlah keuangan syariah terbanyak setelah Malaysia.

Dari sisi aset, kata Asep, hingga Juni 2018 total aset keuangan syariah sudah mencapai Rp1,335,41 triliun atau USD94,44 miliar (tidak termasuk saham syariah). Dari sisi market share capaiannya sebesar 8,29%. Mayoritas sisanya masih dipegang keuangan konvesional 91,71%.

“Dalam situasi dan kondisi ekonomi yang secara global dan domestik penuh tantangan ini, secara konservatif paling tidak pertumbuhan aset keuangan syariah minimum dapat dipertahankan sama dengan tahun lalu sebesar 13,98%,” terang Asep. (rob)

ads

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here