Konsumsi Protein Hewani Bisa Cegah Anak Stunting

6
Ilustrasi kaya akan Protein Hewani Foto: Media Indonesia

WartaPenaNews, Jakarta – Mengonsumsi protein hewani dapat menahan atau menurunkan prevalansi stunting pada beberapa anak balita. Hal tersebut dikatakan aAhli nutirisi Prof. Dr. dr. Damayanti R Sjarif, Sp.A(K).

“Pada babak pemberian makanan pendamping air susu ibu (MPASI), orang tua mesti melihat skema konsumsi gizi yang imbang, terutama untuk memberikan konsumsi karbohidrat, lemak tinggi dan protein hewani,” kata dokter konsultan nutrisi dan penyakit metabolik anak RSCM ini dalam keterangan tercatat, Jumat (20/9/2019).

Damayanti menyampaikan hal tersebut dalam seminar Gizi Buat Bangsa (GUB) bertemakan “Peran dan Kesertaan Stakeholders dalam Penurunan Stunting” yang diselenggarakan Fakultas Kesehatan Penduduk Universitas Indonesia. Menurut dia, stunting cuma dapat terpecahkan selama periode 1000 hari pertama kehidupan (HPK) atau dari saat kehamilan sampai anak berumur dua tahun dan saat dimana otak anak berkembang sangat cepat.

“ASI eksklusif penting diberi selama 6 bulan pertama dan bisa dilanjutkan sampai anak berumur dua tahun,” katanya.

Waktu ini, lanjut Damayanti, faksinya bekerja bersama dengan Kementerian Desa, Wilayah Ketinggalan dan Transmigrasi telah meningkatkan proyek contoh aksi lewatkan stunting di Desa Banyumundu, Kabupaten Pandeglang, Banten. Hasilnya tunjukkan adanya penurunan prevalensi stunting sebesar 8,4 persen dalam 6 bulan dari 41,5 persen berubah menjadi 33,1 persen atau mencapai 4,3 kali lipat dari obyek tahunan WHO.

Seperti diketahui, stunting atau perawakan pendek pada anak karena malnutrisi kritis masih berubah menjadi rintangan di Indonesia. Data Analisa Kesehatan Basic (RISKESDAS) tunjukkan, prevalensi balita stunting di tahun 2018 mencapai 30,8 persen artinya 1 dari 3 balita mengalami stunting. Lebih, Indonesia merupakan negara dengan beban anak stunting paling tinggi ke-2 di Lokasi Asia Tenggara dan ke-5 di dunia.

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) yang diwakilkan Dr. Entos Zainal menguraikan stunting menimbulkan kerugian negara sama dengan Rp4 triliun per tahun atau sebesar 3 persen dari PDB, hingga pemercepatan perlakuan stunting tetap berubah menjadi satu diantara acara besar pemerintah.

“Buat mencapai obyek perolehan prevalensi stunting sebesar 19 persen di tahun 2024 tentulah bukan pekerjaan yang mudah. Karena itu diperlukan terobosan, pembaruan dan kerja sama lintas bagian termasuk kerja sama dengan akademisi dan faksi swasta untuk segera mengatasi hal ini secara konkret,” ujar Entos.

Keadaan stunting akan berefek serius buat kesehatan anak baik untuk periode pendek ataupun periode panjang.

Resiko periode pendek mencakup kemajuan badan anak yang terkendala, perform anak yang mengalami penurunan di sekolah, penambahan angka kesakitan dan resiko kematian.

“Sedangkan untuk resiko periode panjang dari stunting adalah obesitas, penambahan resiko penyakit tidak menebar, bentuk badan pendek saat dewasa, dan penurunan produktivitas dan kwalitas hidup anak di saat mendatang, ” kata Entos.

Di waktu yang sama, Dr. Marudut Sitompul dari Persatuan Pakar Gizi Indonesia (PERSAGI) menyampaikan, konsumsi protein terbaik bisa diraih dari sumber protein hewani adalah telur dan susu karena memiliki nilai cerna dan bioavailabilitas tertinggi dan asam amino prinsipil lebih komplet untuk mendukung perkembangan linear beberapa anak. (mus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here