Benarkah Diet Vegan Tak Selalu Sehat untuk Lingkungan?

alpukat Foto: Pemburu Ombak

WartaPenaNews, Jakarta – Diet vegan digadang-gadang sebagai gaya hidup yang lebih baik untuk planet kita dibanding produk hewani. Ternyata tidak selalu demikian.

Sesendok mentega almond, avokad, beberapa potong mangga, segenggam blueberry, taburan bubuk kakao dan mungkin sedikit susu kedelai: menjadi segelas smoothie lezat. Minuman vegan itu memang sarapan lezat, penuh nutrisi dan baik untuk kesehatan Anda. Tapi, mungkin tidak baik untuk planet ini.

Tidak ada keraguan bahwa daging, khususnya daging sapi, memberikan kontribusi yang tak tertandingi terhadap emisi gas rumah kaca di planet ini.

Industri daging sapi juga menggunakan banyak tanah dan air dan menyebabkan lebih banyak kerusakan lingkungan daripada produk makanan tunggal lainnya.

Laporan menyeluruh baru-baru ini oleh Komisi EAT-Lancet merekomendasikan bahwa mengurangi konsumsi produk hewani tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan manusia, tetapi juga kesehatan planet kita.

Bahkan sumber daging yang `paling hijau` pun masih menghasilkan lebih banyak gas rumah kaca daripada protein nabati.

Tetapi siapa pun yang ingin menerapkan pola makan vegan atau vegetarian karena alasan lingkungan mungkin juga ingin mempertimbangkan bahwa ada beberapa makanan nabati yang harganya mahal untuk lingkungan.

“Tidak ada yang benar-benar sebanding dengan daging sapi, domba, babi, dan susu. Produk-produk ini ada di levelnya sendiri kalau kita bicara tingkat kerusakannya terhadap lingkungan, dan biasanya ada pada hampir setiap masalah lingkungan yang kami lacak,” kata Joseph Poore, seorang peneliti di Universitas Oxford yang mempelajari dampak lingkungan dari makanan.

“Tetapi penting untuk berhati-hati dalam semua yang kita konsumsi: buah dan sayuran yang diangkut melalui udara dapat menciptakan lebih banyak emisi gas rumah kaca per kilogram daripada daging unggas, misalnya.”

Buah-buahan yang lembut seperti blueberry dan stroberi, misalnya, sering diimpor ke Eropa dan AS dengan pesawat untuk mengisi celah ketika buah lokal tidak musim.

Penelitian oleh Angelina Frankowska, yang mempelajari keberlanjutan di Universitas Manchester, baru-baru ini menemukan bahwa asparagus yang dimakan di Inggris memiliki jejak karbon tertinggi dibandingkan dengan sayuran lain yang dimakan di negara itu.

Ada 5,3 kg karbon dioksida yang diproduksi untuk setiap kilogram asparagus, terutama karena sebagian besar diimpor melalui udara dari Peru.

Angelina dan rekan-rekannya menemukan bahwa asparagus segar memiliki jejak lingkungan terbesar dari 56 sayuran yang mereka teliti, termasuk penggunaan lahan dan penggunaan airnya yang tiga kali lebih besar dari sayur di peringkat dua.

Tanpa mempertimbangkan dengan hati-hati dari mana makanan kita berasal dan bagaimana makanan itu ditanam, diet kita bisa menimbulkan konsekuensi yang tidak diinginkan.

Ada contoh aneh dari dua orang vegan dalam sebuah penelitian Italia. Keduanya menimbulkan dampak lingkungan yang jauh lebih tinggi daripada banyak pemakan daging. Ketika digali sedikit lebih jauh, peneliti menemukan bahwa pasangan itu hanya makan buah saja.

“Mereka memakan buah dalam jumlah besar,” kata Francesca Scazzina, seorang ahli nutrisi di Universitas Parma, Italia. “Saya ingat jumlahnya 7-8 kilogram buah per hari. Kami mengumpulkan data mereka di musim panas, saat mereka banyak makan semangka dan melon.”

Air dan tanah yang digunakan dan jejak karbon yang dihasilkan dari menanam dan mengangkut buah mudah rusak yang begitu besar, berarti dampak lingkungan yang jauh lebih besar dari perkiraan.

Meski demikian setelah data dari 153 vegan, vegetarian dan omnivora dalam studi itu dihitung, pemakan daging secara rata-rata berdampak lebih buruk bagi lingkungan.

Tetapi ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan ketika kita memikirkan tentang tanaman pangan yang dapat meningkatkan dampak lingkungan.

Pupuk buatan, misalnya, menyumbang setidaknya 3?ri emisi gas rumah kaca global, menurut industri. Produksi pupuk sintetis menghasilkan karbon dioksida (CO2) dan metana ke atmosfer, sementara penggunaan pupuk di lahan pertanian menghasilkan dinitrogen oksida, gas rumah kaca lainnya.

Praktik pertanian seperti mengolah ladang juga melepaskan gas rumah kaca dalam jumlah besar ke atmosfer, dan membantu mempercepat erosi.

Gabungan unsur-unsur ini berbeda tergantung tanaman yang ditanam. Tapi jelas ada beberapa makanan nabati yang berdampak tidak proporsional terhadap lingkungan. Berikut ini beberapa pelanggar terburuk menurut BBC Future:

Daging hijau yang kaya buah ini dihaluskan, dicampur dan dipotong-potong di kafe-kafe hipster, restoran-restoran, dan dapur-dapur rumah di seluruh dunia.

Avokad bisa jadi sumber penting untuk mendapatkan protein, vitamin, dan asam lemak untuk orang yang tidak makan daging.

Tetapi avokad juga perlu banyak air. Satu pohon dewasa di California, misalnya, membutuhkan hingga 209 liter setiap hari di musim panas. Air sebanyak ini bisa untuk mengisi bak mandi besar.

Jumlah ini jadi nampak sangat banyak pada bulan-bulan musim panas yang kering di daerah yang airnya terbatas seperti California, Chili, Meksiko dan Spanyol selatan. Di kawasan itu, banyaknya tanaman avokad yang ditanam memberi tekanan besar pada lingkungan setempat.

Diadaptasi dari iklim hutan hujan yang panas dan lembab, akarnya relatif dangkal dan sulit mencari air yang tertahan di dalam tanah. Ini berarti harus terus diairi ketika jarang hujan.

Untuk menumbuhkan satu buah avokad, diperkirakan dibutuhkan sekitar 140 liter-272 liter air, atau sekitar 834 liter per kilogram buah.

Di beberapa daerah, seperti Peru dan Chili, meningkatnya permintaan avokad menyebabkan pengambilan air sungai secara ilegal, yang dituding meningkatkan krisis air.

Avokad bukan satu-satunya buah yang menggunakan air dalam jumlah ekstrem. Buah lain seperti mangga dan plum juga menyedot air dalam jumlah besar. Satu kilogram mangga membutuhkan 686 liter air, sementara plum butuh 305 liter air.

Tapi masih ada harapan. Seorang petani di California mengklaim telah mengurangi 75% air yang digunakannya berkat sensor kelembaban tanah nirkabel yang memantau tanah di sekitar pohon-pohonnya. Alat ini memastikan air hanya dikirim saat dibutuhkan, dan hanya ke tempat yang membutuhkan.

Namun, setelah panen, avokad dan mangga dimandikan dalam air panas selama lebih dari satu jam untuk mencegah serangan serangga dan mengendalikan pembusukan. Dagingnya yang sangat halus dan pematangan yang cepat juga berarti bahwa banyak buah yang diimpor ke Eropa dan AS diimpor melalui udara. (mus)