Dr. M. Kapitra Ampera, SH., MH; Lahir Ditengah Keluarga Aktivis Pro Rakyat

Kapitra Ampera

Jakarta, WartaPenaNews – Selama menjadi advokat nama Kapitra Ampera sudah dikenal oleh publik sebagai penasehat hukum Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Muhammad Rizieq Shihab. Sejak saat itu namanya pun mulai dikenal luas oleh masyarakat sebagai pengacara tokoh Islam yang tengah terjerat kasus hukum.

Namun keputusannya menjadi calon legislatif (caleg) Partai Demokrasi Perjuangan Indonesia (PDIP) terbilang mengejutkan bagi semua pihak, khususnya kubu FPI dan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI). Kapitra pun dicap sebagai pembelot dan tuduhan-tuduhan negatif lainnya.

Sebelum menjadi penasihat hukum Ustad Bachtiar Nasir, dan Ustad Abdul Somad, Tim Advokasi GNPF-Ulama ini juga pernah mendampingi sejumlah pesohor tanah air, antara lain pesepakbola Diego Michiels atau Diego Muhammad bin Robbie Michiels, artis cantik Tamara Bleszynski, dan pedangdut Kristina.

Selain mendampingi kalangan selebritis, Kapitra juga pernah menjadi kuasa hukum Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto dalam kasus tukar guling Bulog dan PT Goro Batara Sakti. Dia juga pernah menjadi penasehat hukum mantan Menteri Kordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto.

Terkait dengan profesinya sebagai pengacara, Kapitra kini memimpin sebuah law firm yang bernama M. Kapitra Ampera & Associates. Ia juga juga menjabat sebagai Ketua Harian Himpunan Advokad Pengacara Indonesia (HAPI).

Uniknya, logo kantor pengacara yang memiliki simbol tiga warna, merah, putih, dan hitam masing-masing memiliki arti tersendiri. “Putih simbol kebenaran dan keadilan. Hitam artinya kegelapan. Merah keberanian. Jika disatukan, saat kita diharuskan menegakkan kebenaran dan keadilan dalam kegelapan dibutuhkan suatu keberanian,” sebut Kapitra.

Kapitra Ampera menegaskan statusnya sebagai caleg DPR dari PDIP dapil Riau 2, didampingi oleh Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto dan Ketua DPP PDIP Bidang Idelogi, Idham Samawi, Selasa (24/7) | Foto: Republika

Di luar profesinya sebagai pengacara, pada tahun 2005, Kapitra pernah maju sebagai calon gubernur berpasangan dengan Dalimi Abdullah dalam Pemilukada Sumatera Barat. Namun, ia dan pasangannya belum berhasil memenangkan Pilkada dan hanya meraih 94.989 suara atau 6,83% dari total suara.

Dalam pengabdiannya kepada masyarakat, alumnus Universitas Muhamaddiyah Jakarta ini juga aktif aktif dalam pembelaan masyarakat Riau, petani, buruh migas, dan mahasiswa Riau. Namanya juga pernah terlibat dalam Tim Advokasi Tentara Nasional Indonesia (TNI), Jakarta.

Meskipun pernah menjadi penasehat hukum di kalangan ulama, selebritis, serta pejabat negara, ia mengaku tak pernah membeda-bedakan latar belakang kliennya. Dia menganggap semuanya sama dimata hukum. Semuanya berhak mendapatkan keadilan.

“Saya tegak pada dua sisi. Kebenaran dan keadilan. Saya tidak melihat klien saya itu ulama, artis, atau pejabat. Ketika dia dalam posisi memang, keadilan harus dia dapatkan. Dasar kita berdasarkan kebenaran. Ada juga ulama yang salah, saya gak bela. Tapi kalau dia benar, saya tidak mau diskriminatif,” ujar Kapitra.

Harus diakuinya setiap perkara punya kompleksitas permasalahan berbeda-beda. Dari sinilah ia bisa menentukan strategi pembelaan agar kliennya bisa mendapat keadilan di mata hukum. Tapi tak semua persoalan harus berujung di pengadilan. Ada kalanya persoalan itu bisa selesai di luar persidangan.

Selama menjalani profesinya, Kapitra mengklaim tak pernah terlibat suap menyuap. Ia lebih memilih beradu argumen, data, dan fakta dari pada harus mencari jalan lain agar menang. Dia menganggap pihak yang suka bertindak diluar koridor hukum, adalah orang yang memiliki kedangkalan berpikir.

“Bagi saya bukan masalah menang atau kalah. Tapi benar atau salah. Kalau kita benar dan kita kalah tak ada masalah. Kita sudah mencoba berusaha menegakan kebenaran. Kalau kita menang, tapi kita salah, itu namanya munafik hiprokitisasi, kita tak mau terjebak dalam blunder seperti itu,” jelas alumus Program Magister Universitas Islam Indonesia ini.

Kapitra Ampera dan Rizieq Shihab. (Dok. Istimewa) | Foto: cnnindonesia.com

Cita-cita Sejak Kecil
Menjadi pengacara merupakan cita-citanya sejak kecil. Pria kelahiran Padang, 20 Mei 1966 ini menganggap menjadi pengacara itu sexy. Karena profesi ini bermain di dua sisi yang berbeda, antara idealisme dan materialisme.

“Idealisme dia membela kebenaran dan keadilan tanpa memandang bulu. Materialisme dia juga butuh hidup. Perlu mencukupi ekonominya. Bermain di dua tebing ini tidak mudah,” jelas Kapitra.

Kapitra lahir dari lingkungan keluarga advokat. Mendiang ibunya berprofesi sebagai advokat. Begitu juga dengan kakeknya. Ibunya memberikan pengaruh besar terhadap karirnya. Dari sosok ibu lah banyak melahirkan inspirasi tentang nilai-nilai kebenaran.

“Ibu saya pernah berkata, “Biarlah kau hancur dalam kejujuran daripada kau bergelimang harta dalam kebohongan”. Prinsip ini yang saya selalu pegang sampai hari ini,” kenang Kapitra.

Kala menceritakan tentang ibunya, mata Kapitra terlihat berkaca-kaca. Air matanya menetes membasahi pipinya. Baginya, ibu bukan orang yang telah melahirkannya, tetapi juga sebagai pemandu dalam perjalanan hidupnya. Ia selalu diajarkan untuk selalu berlaku jujur terhadap siapa pun. Meski sikap itu dirasa berat dijalani.

“Dalam beracara saya tak berani berbohong. Saya selalu membangun kejujuran itu, baik ditengah keluarga atau ditengah masyarakat. Saya merasakan, ketika jujur, saya mendapatkan lebih sulit dan lebih teraniaya. Tapi saya tetap menjalankan amanat ibu saya,” ujar Kapitra.

Mendiang ayahnya adalah mantan seorang aktivis yang pernah ikut terlibat aksi menjatuhkan Presiden RI pertama Soekarno. Di era reformasi, ayahnya yang berprofesi sebagai dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta bersama Amien Rais dan sejumlah tokoh reformis lainnya, ikut aksi menggulingkan rezim pemerintahan Soeharto. Bahkan ayahnya wafat ditengah aksi menumbangkan orde baru.

Menurut Kapitra, namanya pun memiliki akronim yang bermakna perjuangan. Kapitra bisa diartikan “Kesatuan Aksi Pemuda Indonesia Tra (bahasa Spanyol) artinya dalam”. Ampera bisa diartikan, “Amanat Penderitaan Rakyat”. Jika disatukan, namanya menjadi Muhammad yang dilahirkan pada aksi persatuan pemuda di Indonesia dalam amanat penderitaan rakyat.

“Sejak lahir saya sudah menanggung beban. Di mana ada penderitaan rakyat, disitu ada Kapitra. Saya harus melakukan aksi untuk membelanya. Walaupun saya tak seglamour pengacara lainnya, tapi saya bisa bersama-sama dengan rakyat,” ujar dia.

Kapitra Ampera (paling kanan) memperlihatkan surat gugatan cerai yang diajukan Maia Estianty (tengah) terhadap suaminya Ahmad Dhani | Foto; Bangka Pos

Dukungan Keluarga
Kapitra termasuk orang yang beruntung dalam menjalani karirnya. Ia mendapat dukungan penuh dari keluarga terutama dari istri dan anaknya. Meski kerap mendapatkan ancaman dan teror, namun istrinya selalu mengerti resiko yang ia hadapi. Apalagi, selama ini Kapitra dikenal sebagai sosok yang keras dan berani. Tak heran banyak orang yang tak “nyaman” terhadapnya

Di dalam lingkungan keluarga Kapitra dikenal sebagai ayah sekaligus suami yang penuh tanggung jawab. Ketika tengah berada di rumah, Kapitra selalu menjalankan tugasnya sebagai kepala rumah tangga. Guna lebih fokus menjalani fungsinya itu, ia tak pernah membawa pekerjaan ke rumahnya.

Dalam mendidik anak-anaknya, Kapitra tak pernah memaksakan kehendaknya sendiri. Buah hatinya dibebaskan dalam menentukan jalan hidupnya. Terpenting, apa pun profesi yang dipilih, Kapitra selalu menekankan agar menjadi anak soleh dan selalu menjalani perintah-Nya dan menjauhi semua larangannya.

“Saya tidak pernah mengarahkan mereka mau jadi apa. Kecuali satu, mereka harus menjadi anak-anak yang soleh. Mereka mau jadi tukang parkir pun saya bebaskan. Asal dia menjadi anak yang soleh,” kata Kapitra yang salah satu anaknya kini mengikuti jejaknya menjad pengacara.

Namun di tengah ketenaran dan kesuksesan yang pernah ia raih, ada sebuah keinginan yang sampai saat ini belum tercapai. Kapitra mengungkapkan keinginannya itu berada di lingkaran kekuasaan. Hal ini juga yang mendorongnya mencalonkan diri menjadi Caleg PDIP pada Pemilu 2019 lalu. Ia ingin memperbaiki bangsa ini dari dalam, karena jika berjuang di luar sistem pemerintahan, dianggap kurang efektif.

“Selama ini saya berjuang di luar sistem. Kekuasaan yang bisa memperbaiki negara. Itu yang saya belum dapat,” ujar Kapitra yang namanya pernah disebut-sebut sebagai calon Jaksa Agung di kabinet pemerintahan Presiden Jokowi Jilid II. (rob)