Ini Curhat Kemenhub Soal Arus Mudik Lebaran

Ilustrasi mudik dengan kendaraan pribadi Foto: OtoSpector

“Kami tidak punya pengalaman sama sekali menghadapi kondisi seperti ini. Selama ini caranya bagaimana melancarkan, sekarang menyekat transportasi. Bicara waktu biasanya H-7, H+1, H+2, sekarang waktunya panjang sekali,”.

WartaPenaNews, Jakarta Pada masa pandemi Covid-19, Kementerian Perhubungan serasa mendapatkan pengalaman baru dalam pengendalian transportasi. Pada Lebaran tahun lalu atau sebelum pandemi Covid-19, Kementerian Perhubungan berupaya melancarkan transportasi atau mobilitas arus mudik dan balik.

Namun, pada kondisi sekarang, langkah yang dilakukan Kemenhub justru menyekat transportasi. ”Kita semua tidak pernah mempunyai pengalaman sama sekali menghadapi kondisi seperti ini. Selama ini caranya bagaimana melancarkan, sekarang menyekat transportasi,” kata Direktur Lalu Lintas Jalan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Sigit Irfansyah di Jakarta, Rabu (27/5/2020).

Peryataan Sigit itu diucapkan saat diskusi daring yang digelar Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), bersama Direktur Keamanan dan Keselamatan Korlantas Polri Brigjen Pol Dr. Chryshnanda Dwilaksana, Direktur Prasarana Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek BPTJ Edy Nursalam, Corporate Communication & Community Development Group Head PT Jasa Marga (Persero) Tbk Dwimawan Heru, Ketua umum MTI Agus Taufik Mulyono, dan nara sumber lainnya.

Terkait penyekatan guna mengantisipasi penularan Covid-19, Polri telah mendirikan 116 pos penyekatan di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Hal ini dalam rangka mengantisipasi arus balik usai Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah.

Direktur Keamanan dan Keselamatan Korlantas Polri Brigjen (Pol) Chryshnanda Dwilaksana secara rinci menyebutkan sebanyak 116 titik penyekatan itu meliputi, Jawa Timur (32 titik), Jawa Tengah (16 titik) dan Jawa Barat (20 titik). Kemudian, DKI Jakarta (18 titik), Banten (15 titik) dan Lampung (45 titik).

Sementara untuk wilayah Jabodetabek, penyekatan yang dilakukan di 11 titik, yakni wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Semula penyekatan akan dilakukan di 16 titik, tetapi akhirnya dipadatkan hanya 11 titik karena mengarah ke satu ruas jalan.

Penyekatan di wilayah Jabodebek terkait dengan pengawasan pemenuhan surat izin keluar masuk (SIKM) sesuai Peraturan Gubernur No. 47 Tahun 2020 tentang Pembatasan Berpergian Keluar dan/atau Masuk Provinsi DKI Jakarta.

Chryshnanda menuturkan, apabila tidak dilakukan penyekatan, maka potensi penyebaran virus corona akan semakin masif karena adanya pergerakan manusia dari satu daerah ke daerah lain dengan leluasa. Dia bilang, ini suatu langkah bijaksana mengatasi permasalahan pandemi Covid-19.

82.604 Kendaraan Dipaksa Putar Balik

Selama masa pandemi Covid-19, Petugas gabungan Kementerian Perhubungan dan Kepolisian telah meminta 82.604 kendaraan yang diminta putar balik. Data itu dihimpun Korps Lalu Lintas Polri selama Operasi Ketupat 2020 yang berlangsung mulai 24 April hingga 26 Mei 2020. Diprediksi jumlah ini akan terus bertambah sampai operasi ketupat selesai dilaksanakan.

Selama masa pelarangan mudik berlangsung, pemerintah bersama kepolisian menetapkan 116 titik penyekatan. Sebanyak 18 titik berada di Jakarta, 20 titik di Jawa Barat, 16 titik di Jawa Tengah, dan 32 titik di Jawa Timur. Kemudian, 45 titik berada di Lampung dan 15 titik lainnya berada di Banten.

Petugas juga telah menjaring 593 unit kendaraan travel gelap yang mengangkut penumpang di masa pelarangan mudik. Kasus yang paling banyak terjadi di wilayah pengamanan Polda Metro Jaya, mencapai 417 kendaraan. Selanjutnya, di wilayah Polda Jawa Barat 175 kendaraan. Sedangkan petugas di wilayah Polda Banten hanya menemukan satu kasus.

Modus lain untuk meloloskan calon pemudik juga dilakukan menggunakan angkutan barang. Petugas kepolisian, tutur Chrysnanda, menemukan satu kasus tersebut di Jawa Timur. Kemudian, ada pula calon pemudik menggunakan bus yang digagalkan petugas. Kasus ini terjadi di Jawa Timur sebanyak tiga kendaraan dan Lampung sebanyak satu kendaraan.

Dengan begitu, total kendaraan bermotor yang diamankan petugas selama Operasi Ketupat 2020 mencapai 605 kendaraan. “Memang ini tidak layak disebutkan (angkanya). Namun ini merupakan sebuah refleksi bahwa ada pihak-pihak yang masih melanggar,” ujar Chryshnanda dalam diskusi tersebut.

Direktur Prasarana Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Edi Nursalam mengatakan pengawasan terhadap arus balik Lebaran akan diperpanjang hingga 7 Juni. Kebijakan ini berlaku sesuai dengan tenggat masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang ditetapkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

“Walau Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25 Tahun 2020 yang mengatur larangan mudik berlaku sampai 31 Mei, pengawasan berjalan hingga 7 Juni. Paling tidak, kami hambat arus kendaraan yang mau balik dan tidak punya izin,” ujarnya.

Turun Signifikan

Upaya penyekatan di sejumlah titik ruas jalan yang dilakukan oleh Kemenhub bersama dengan petugas gabungan lainnya teryata membuahkan hasil yang signifikan. Hal ini tercermin dari jumlah kendaraan yang melintasi jalan tol pada arus balik menuju Jakarta.

Jasa Marga mencatat total 111.022 kendaraan menuju Jakarta melalui arah timur, barat dan selatan pada 25–26 Mei 2020 atau selama H+1 dan H+2 setelah Lebaran. Jumlah volume lalu lintas (lalin) ini turun 66 persen, dibandingkan dengan lalin periode yang sama di Lebaran 2019.

“Untuk distribusi lalu lintas menuju Jakarta sebesar 30,6 persen dari arah timur, 33,4 persen dari arah barat dan 36 persen dari arah selatan,” ujar Communication & Community Development Group Head PT Jasa Marga (Persero) Tbk Dwimawan Heru.

Lalin menuju Jakarta dari arah timur berasal dari dua gerbang tol (GT). Perincian distribusi lalin yaitu GT Cikampek Utama 2, dengan jumlah 18.058 kendaraan menuju Jakarta, turun sebesar 65 persen dari Lebaran tahun 2019.

Kemudian, GT Kalihurip Utama 2 dengan jumlah 15.884 kendaraan menuju Jakarta, turun sebesar 86 persen dari Lebaran 2019.

Selanjutnya, jumlah kendaraan yang menuju Jakarta melalui GT Cikupa tercatat 37.134 kendaraan, turun 53 persen dari Lebaran 2019. Sementara itu, jumlah kendaraan yang menuju Jakarta melalui GT Ciawi 2 tercatat 39.946 kendaraan, turun 53 persen dari Lebaran 2019. (rob)