Kalangan Pengusaha Keberatan Kenaikan Tarif Baru di Pelabuhan Tanjung Priuk

oleh -
Ilustrasi kenaikan tarif di Pelabuhan Tanjung Priuk Jakarta Utara | Foto: Net

WartaPenaNews, Jakarta – Pelaku usaha mengajukan keberatan atas kebijakan PT Pelindo II (Persero) atau IPC menaikkan tarif di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara hingga 39 persen. Kenaikan ini akan berdampak langsung pada peningkatan biaya logistik.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Logistik dan Pengelolaan Rantai Pasokan Rico Rustombi menilai, kenaikan tarif di sejumlah pos pelabuhan tidak sejalan dengan upaya pemerintah untuk menekan biaya logistik dari 23,5 persen menjadi 17 persen pada 2024.

Selain itu, pengenaan tarif baru untuk biaya penumpukan (storage) dan biaya pengangkatan kontainer ke truk (lift-on) tersebut dipandang kontraproduktif terhadap program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang dilakukan pemerintah.

“Kenaikan tarif di pelabuhan juga akan berdampak luas ke berbagai sektor usaha yang terkait mengingat posisi pelabuhan sebagai lini penghubung kegiatan produksi dan perniagaan,” kata Rico dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (14/4/2021).

BACA JUGA:   Begini Cara Perpanjang Masa Berlaku Sertifikat Halal Jadi 4 tahun

Menurutnya, perubahan skema tarif di pelabuhan, tidak hanya berdampak pada sektor logistik, tapi juga pada sektor industri, kegiatan ekspor-impor hingga konsumen.

“Kenaikan biaya tersebut dapat berdampak pada peningkatan biaya bahan baku industri, peningkatan harga jual barang jadi, dan penurunan daya saing industri nasional secara umum,” katanya.

Selain itu, Rico berpendapat momentum kenaikan tarif kali ini kurang tepat. Pasalnya, kondisi perekonomian masih negatif, walaupun sudah mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

Senada, Ketua Harian Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Mahendra Rianto menilai kebijakan tersebut diambil dengan langkah komunikasi dan sosialisasi yang minim. Ia berpendapat seharusnya para pemangku kepentingan sektoral terlibat dalam urun rembug sebelum skema tarif baru dikeluarkan.

BACA JUGA:   Begini Cara Perpanjang Masa Berlaku Sertifikat Halal Jadi 4 tahun

“Jumlah asosiasi terkait sebagai pengguna dan pelaku kegiatan logistik yang diajak bicara terkait rencana kenaikan tarif sangat minim,” kata Mahendra seperti dilansir dari AntaraNews.com.

Mahendra menguraikan kenaikan tarif yang terjadi mencakup biaya penumpukan (storage) berbasis waktu (hari) dan ukuran (20 kaki dan 40 kaki). Kenaikan pada setiap pos tarif berkisar antara 7 persen sampai 39 persen. Selain itu, terdapat kenaikan biaya pengangkutan kontainer ke truk (handling/lift-on).

“Untuk handling kontainer ukuran 20 kaki naik dari Rp187.500 menjadi Rp285.500. Sedangkan untuk ukuran 40 kaki naik dari tarif lama Rp281.300 menjadi Rp428.250,” rincinya.

BACA JUGA:   Begini Cara Perpanjang Masa Berlaku Sertifikat Halal Jadi 4 tahun

Mahendra berharap IPC dan kementerian terkait bisa mengevaluasi kebijakan tersebut. Hal itu lantaran skema tarif baru tersebut tidak hanya membebani dunia usaha, tetapi juga akan berdampak langsung pada sektor-sektor lainnya yang berujung pada terhambatnya pemulihan ekonomi nasional yang tengah terpukul oleh pandemi Covid-19.

Pada kesempatan terpisah, Benny Soetrisno, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Eksportir Indonesia (GPEI) juga menyatakan keberatannya.

“Kami tidak melihat urgensi maupun manfaat menaikkan tarif tersebut. Sementara di sisi lain sudah jelas akan menambah beban biaya logistik yang harus ditanggung oleh pengusaha. Ini bagaikan jatuh tertimpa tangga, di saat umumnya pengusaha repot berusaha bertahan menghadapi pandemi malah dibebani dengan kenaikan biaya logistik,” ujar Benny. (rob)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *