Kerjasama Riset Unpad-UP-TU Ilmenau Tentang Krisis Covid-19 di Indonesia Dukungan Masyarakat di Tengah Buruknya Dampak Ekonomi

WartaPenaNews, Bandung – Pandemi virus Corona sampai saat ini telah menyebar di 210 negara
termasuk Indonesia. Bagi Indonesia, ini menjadi tantangan multidimensi. Pemerintah dan
masyarakat dihadapkan pada berbagai keputusan sulit baik itu di sektor kesehatan, sosial,
ekonomi, maupun politik. Untuk merekam perspektif masyarakat terkait kondisi krisis Covid19 di Indonesia, peneliti Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjadjaran dan
Fikom Universitas Pancasila (UP) bekerjasama dengan Department of Empirical Media
Research and Political Communication Technische, Universtät Ilmenau di Jerman melakukan
penelitian bersama mengenai tema tersebut.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat
opini publik tentang krisis Corona pada umumnya dan bagaimana penggunaan media di
masyarakat dapat mempengaruhi terbentuknya persepsi tentang krisis. Instrumen survei yang
digunakan oleh tim peneliti di Indonesia dan Jerman menggunakan konsep yang serupa, namun
disesuaikan dengan konteks di masing-masing negara. Penelitian ini menggunakan metode
survei representatif nasional dan pengumpulan data dilakukan melalui aplikasi digital yang
dilaksanakan oleh Jakpat Mobile Online Survey Indonesia. Periode pengumpulan data
dilakukan pada tanggal 27 April -18 Mei 2020 dan menjangkau 1114 responden dari seluruh
provinsi di Indonesia. Beberapa hal menarik ditemukan dalam penelitian ini.

Hasil survei
memperlihatkan bahwa 87% responden merasa bahwa virus Corona membahayakan kesehatan
mereka dan 65% responden merasa takut tertular virus yang sampai tanggal 19 Mei 2020
kemarin menyebabkan kematian 1.191 orang di Indonesia dan lebih dari 300.000 orang di
seluruh dunia. Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa kebijakan pemerintah untuk
membatasi penyebaran virus Corona dengan pelarangan mudik ternyata mendapatkan
dukungan mayoritas. Sebanyak 86% responden di seluruh Indonesia mendukung kebijakan
pelarangan mudik. Ini menjadi hal menarik mengingat mudik telah menjadi ritual sosial
masyarakat Indonesia.

Namun demikian, mayoritas masyarakat mengakui pandemi virus Corona dan penanganannya
dirasakan sangat mengganggu kondisi perekonomian mereka. Lebih dari 90% responden
menyatakan bahwa kondisi perekonomian keluarga mereka terganggu karena adanya pandemi
Corona. Meskipun begitu, hanya 32% responden yang merasa marah terhadap kebijakan
Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang membuat mereka tidak bisa melakukan halhal yang biasanya mereka lakukan.

Sejalan dengan itu, riset memperlihatkan 70% responden menyatakan bahwa mereka puas
dengan kebijakan yang dilakukan pemerintah pusat dalam pengatasi permasalahan Corona.
Namun hal ini sangat mungkin untuk berubah mengingat disaat yang bersamaan, 72%
responden juga setuju dengan pernyataan bahwa pemerintah kewalahan dalam mengatasi
permasalahan virus Corona di Indonesia. Selain itu, 46% responden merasa bahwa mereka
tidak memiliki pengaruh atas keputusan pemerintah dalam penanganan Covid-19.

Dalam hal pencarian sumber informasi, ditemukan bahwa lebih banyak masyarakat yang
mengandalkan informasi dari media massa dibandingkan dengan informasi langsung dari
pemerintah. Hal ini terlihat dari pengakuan 82% responden yang mengaku sering mendapatkan
informasi Covid-19 melalui siaran TV swasta dan 58% responden mengaku sering menonton
siaran TVRI Pusat dan TVRI Daerah untuk mendapatkan informasi seputar Corona. Selain
dari media massa, hasil survei juga memperlihatkan bahwa masyarakat lebih banyak mencari
informasi melalui website asosiasi kesehatan atau dokter dibandingkan website resmi
pemerintah dalam krisis Covid-19. Temuan ini sejalan dengan trend internasional bahwa
masyarakat memiliki kepercayaan tinggi terhadap ahli kesehatan dalam pandemi Covid-19 ini.
Tingginya pola konsumsi televisi untuk mendapat informasi seputar krisis Covid-19 di
Indonesia ini juga searah dengan trend internasional. Penelitian serupa yang dilakukan oleh tim
peneliti TU Ilmenau di Jerman menunjukan bahwa trend penggunaan televisi oleh masyarakat
Jerman dalam masa krisis juga memperlihatkan gambaran serupa. Hanya bedanya, penggunaan
TV publik di Jerman dalam mendapatkan informasi seputar Corona jauh lebih tinggi
dibandingkan dengan TV swasta. Meskipun demikian, kondisi ini menunjukan bahwa produk
jurnalistik masih dinilai penting sebagai sumber informasi masyarakat di masa krisis. Maka
tidak heran bahwa 90% responden menyatakan setuju bahwa jurnalis berperan penting dalam
memberikan informasi yang dibutuhkan seputar Corona.

Selain perolehan data di atas, di
dalam penelitian ini secara keseluruhan terdapat 111 pertanyaan tentang persepsi, sikap dan
emosi masyarakat terhadap pandemi Covid-19 dan bagaimana publik menggunakan media
untuk mencari informasi seputar virus Corona selama beberapa minggu terakhir. Pendanaan
proyek kerjasama penelitian ini sepenuhnya berasal dari tiga institusi yang terlibat di dalam
penelitian, dan tidak didanai oleh lembaga lain. (boim)