Kiat Pelaku Kuliner Bertahan di Masa Pandemi, Merayu Milenial Melalui Tradisi Minuman Berempah

oleh -
Saraz dan Adika, apresiasi milenial akan minuman Heritage Wedang Uwuh. Foto: Budi Hartono

WartaPenaNews, Jakarta – Pandemi telah mengajarkan banyak hal kepada pelaku bisnis skala UMKM. Harus lebih fleksibel, serta beradaptasi dalam berbisnis.

Pemanfaatan tanaman herbal asli Indonesia sebagai racikan minuman, kembali populer. Beragam inovasi dilakukan pebisnis, dari mempertahankan penyajian minuman otentik, hingga memodifikasi agar tersaji kekinian, sesuai selera milenial.

Ayu, pemilik Cafe Omaopa Terrace di Bogor, dan Yanty Digg, Irt, pebisnis minuman probiotik rumahan asal Jakarta, mereka menjual keunikan minuman herbal Nusantara dengan mengedepankan inovasi.

Mereka merasa, sejak awal pandemi hingga sekarang, gaya hidup sehat menjadi acuan utama masyarakat, khususnya generasi milenial, yang mulai mencari dan menggemari minuman herbal seperti jamu, wedang, serta minuman probiotik mengandung rempah.

Kaum milenial mulai memilah dan memilih makanan yang dikonsumsi, selain harus mendatangkan manfaat bagi kesehatan, rasanya pun harus lezat, serta tersaji menarik.

Diantara Wangi Wedang Uwuh dan Cuaca Dingin Kota Bogor

Berkunjung ke suatu tempat, belum terasa lengkap jika belum mencicipi sajian kuliner khas daerah tersebut.

Profesinya sebagai pekerja di industri media, mengharuskannya bertugas ke berbagai kota di Indonesia.

Tak kala berkunjung ke pemakaman Raja-Raja Yogya di daerah Imogiri Bantul, ia melihat pemandangan tidak biasa. Warung – warung sederhana dipenuhi pengunjung milenial. Mereka terlihat asyik menyeruput minuman beraroma rempah bewarna merah, sambil ditemani aneka makanan tradisional.

“Saya terpikat, karena aroma dan warna merahnya, baru tahu minuman tersebut bernama Wedang Uwuh, “ujar Ayu.

Selama bertugas di Yogya, Ayu rutin menyeruput Wedang Uwuh. Rasa penat dan lelah usai bekerja menjadi tidak terasa. Demikian pula gangguan penyakit ringan seperti perut kembung, mual, sakit perut, masuk angin serta gatal tidak pernah dirasakan setelah rutin meminum Wedang Uwuh.

Wedang Uwuh, tradisi minuman Raja Mataram, hadir dari proses kreatif pengawal untuk rajanya. Foto: Istimewa

Wedang Uwuh dibuat atas permintaan Sultan Agung, yang pada saat itu sedang mencari lokasi untuk pemakaman Raja-Raja Mataram. Ketika sampai di Bukit Merak Imogiri (Bantul), yang sekarang menjadi tempat persemayaman Raja-Raja Mataram, saat malam tiba, sultan meminta salah seorang pengawal untuk membuat minuman herbal yang dapat memulihkan stamina.

Ketika sultan sedang bertapa, minuman yang selesai diracik, diletakkan pengawal di bawah pepohonan rindang. Tanpa sengaja, angin meniup dan menjatuhkan beragam daun cengkih, daun pala dan daun kayu manis kering ke dalam minuman. Dalam suasana gelap, sultan kemudian meminum, tanpa menyadari bahwa minumannya bertabur daun kering.

Keesokan hari, Sultan meminta kembali sang pengawal untuk membuat racikan yang sama karena terpikat akan aroma wangi, rasa sedap rempah dan mengembalikan stamina.
Melihat banyaknya daun dan rempah kering yang diracik, minuman tersebut kemudian dinamakan Wedang Uwuh atau minuman sampah. Uwuh dalam bahasa Jawa, artinya sampah.

Heritage dari Cita Rasa Klangenan

Pengalaman berkesan dari hasil rekam rasa perjalanan dinas ke Yogya 6 tahun lalu, kemudian menghadirkan ide untuk membuat cafe mungil, dengan Wedang Uwuh sebagai Signature Drinks.

Sebelum pandemi, kalangan milenial merupakan mayoritas pengunjung setia cafe. Selain menikmati ragam kuliner khas Bogor dan daerah Nusantara di Omaopa Terrace, mereka selalu memesan Wedang Uwuh.

Bagi Adika dan Saraz pengunjung milenial, Wedang Uwuh merupakan minuman klangenan sewaktu dulu berkunjung ke Yogya. “Saya menyukai aroma harum rempah yang sedap, mampu membuat perasaan saya menjadi lebih baik. Jika memesan satu gelas, biasanya saya akan menambah air dan gula batu hingga dua kali, karena untuk isi ulang bisa gratis. Seminggu, saya bisa bolak-balik berkunjung hingga 4 kali, terutama setelah selesai kuliah atau ketika hendak mengerjakan tugas kuliah, bersama teman-teman, “ujar Adika senang.

Menurut Saraz, “Wedang Uwuh terasa spesial, jika dinikmati dengan aneka umbi-umbian rebus, atau dengan juadah lezat sebagai menu sarapan. Ketika senja, di saat cuaca Bogor berubah dingin, Wedang Uwuh menjadi pilihan tepat, karena mampu meredam dingin dan memberikan rasa hangat di dalam tubuh. ”

Walau tersaji otentik, Ayu memberi sentuhan kekinian pada minuman warisan Raja Mataram tersebut. Sebuah teko kaca mini sebagai tempat air panas, gelas bening untuk meletakkan racikan rempah, mangkuk kecil berisi gula batu dan saringan.

Kesemuanya diletakkan di atas alas kayu yang berfungsi sebagai nampan. Unik, sekaligus menggemaskan.

Pengunjung bisa meracik dan menyaring sendiri wedang favorit mereka.
Segelas Wedang Uwuh dihargai Rp. 15,000,-.

Yanty Dygg, Irt, pelaku usaha UMKM, sukses berkat inovasi minuman probiotik rasa rempah, buah dan bunga. Foto: Istimewa

Ketika Pandemi, kala orang enggan berkunjung ke Cafe, Ayu tetap giat mempromosikan Wedang Uwuh ke pelanggan melalui media sosial. Ayu menyediakan Wedang Uwuh instan yang bisa diracik sendiri di rumah. Satu bungkus, sudah termasuk dengan gula batu dijual Rp.15,000,-. Dalam seminggu, rata-rata terjual 25 hingga 35 bungkus.

Wedang Uwuh instan dibelinya langsung dari pengrajin di Imogiri – Bantul. Dalam setahun, ia bisa bertugas hingga tiga kali ke Yogya dan selalu menyempatkan untuk membeli ke pembuatnya.

“Untuk bahan Wedang Uwuh bukan instan, saya membeli dari penjual bahan jamu langganan saya. Terkendala akan persediaan daun pala dan daun kayu manis yang seringkali tidak ada, saya menggantinya dengan daun salam. Juga terpikir untuk menggunakan daun kelor yang kaya zat antioksidan, “kata Ayu.

Tehnik Merebus Hasilkan Aroma, Warna dan Rasa Rempah Istimewa

Sebagai pebisnis, Ayu juga trampil meracik sendiri Wedang Uwuh. “Jika ada pelanggan yang menginginkan warna merah pekat dengan aroma, serta rasa rempah yang kuat, saya akan merebus sendiri semua rempah seperti jahe, cengkih,

kapulaga, kulit kayu secang, daun pala dan daun cengkih hingga mendidih. Kemudian, proses perebusan dilanjutkan dengan menggunakan api kecil dengan menutup panci.

Rebus larutan selama 15 menit hingga 20 menit, (tergantung dari volume air yang digunakan), hingga aroma rempah menjadi lebih harum dari rebusan pertama. Warna merah Wedang Uwuh didapat dari kulit kayu secang. Sebelum disajikan, wedang disaring, dibersihkan dari sisa rempah. Namun, bagi yang ingin menyeduh langsung, wedang dinikmati bersama rempah.

Menurut Ayu, selain masyarakat Imogiri – Bantul, masyarakat Melayu Kalimantan – Barat mengenal Air Serbat atau Air Sepang dan masyarakat Betawi menamakan Bir Pletok untuk minuman herbal bewarna merah, yang menggunakan kulit kayu secang.

Untuk menghadirkan kenikmatan asli, Wedang Uwuh sebaiknya disajikan terpisah dengan pelengkap gula batu bewarna kuning. Namun, jika sulit menemukan gula batu, bisa menggunakan gula pasir, “ujar Ayu membuka rahasia meracik Wedang Uwuh.

Inovasi Teh Kombucha, Hadirkan Cita Rasa Rempah, Sari Buah dan Bunga

Yanty Dygg (Irt), pelaku UMKM memproduksi minuman probiotik Teh Kombucha, melakukan inovasi pada produk racikannya. Ia menghadirkan beragam varian terbaru dengan menambahkan rempah, buah dan bunga.

Menarget sekmen milenial yang menurutnya masih kurang akrab dengan cita rasa rempah.
Waktu awal pandemi, insting bisnisnya menangkap peluang untuk memadukan produknya dengan beragam rempah seperti jahe, pala, serai dan kunyit yang sangat populer karena khasiatnya sebagai penguat imun tubuh, untuk menghindar dari paparan virus Covid-19.

Selain itu, Yanty juga ingin memanfaatkan masa pandemi dengan memperkenalkan keberagaman rempah Indonesia pada generasi milenial dengan cara-cara menyenangkan, yang lekat dengan keseharian mereka.

Bagi Yanty dan keluarga, rempah-rempah Indonesia sangat akrab dengan keseharian mereka.
“Sejak kecil, orang tua telah membiasakan saya untuk mengonsumsi minuman herbal seperti wedang jahe, wedang ronde, ansle, bajigur, pokka atau sekedar merebus teh dengan menambahkan serai dan jahe. Wedang dan minuman berempah senantiasa tersaji di pagi hari sebelum beraktifitas dan sore hari setelah selesai beraktifitas.

Kenangan yang tak terlupa ketika menikmati aneka wedang, hadir aroma harum rempah yang membuat saya senang dan perasaan lebih nyaman. Kini, warisan dari tradisi adi luhung tersebut saya teruskan ke keluarga, serta orang-orang terdekat dalam minuman probiotik, racikan sendiri.
Karena rutin meminum Teh Kombucha yang mengandung rempah, Yanty merasa
badan senantiasa bugar, jarang sakit dan mampu membuat pikiran dan tubuh menjadi lebih rileks dan nyaman.

Selama berbisnis serta berinteraksi dengan sesama pelaku usaha kuliner, Yanty menjumpai hampir sebagian besar produk yang menggunakan rempah sebagai bumbu, maupun perasa pada produk kue dan minuman, kurang diminati milenial.

Agar produknya diminati, sebagian besar pelaku usaha malah mengurangi, bahkan meniadakan penggunaan rempah.

Ia memiliki pandangan, “Seandainya sejak kecil, anak-anak mulai dibiasakan mengenal dan mengonsumsi rempah, kelak ketika anak dewasa, mereka akan menjadi terbiasa dan meneruskan tradisi mengonsumsi rempah dalam keseharian mereka.

Selain, pelaku usaha harus inovatif untuk membumikan penggunaan rempah terhadap produk mereka, agar digemari masyarakat.”

Inovasi Teh Kombucha Pala – Buah Naga Merah, digemari milenial karena rasa dan manfaatnya. Foto: Istimewa

Kian Sedap Berkhasiat

Sukses memproduksi Teh Kombucha yang digemari, serta kian populernya ragam rempah Nusantara di masa pandemi, Yanty mendapat ide untuk memadukan jahe, pala, kunyit, serai dan
kecombrang ke dalam Teh Kombucha produksinya. Serta menambahkan varian buah segar diantaranya buah naga merah, mangga kuweni dan sirsak, juga bunga mawar dan bunga
telang agar rasanya kian bervariasi, serta istimewa.

Untuk mendapatkan cita rasa istimewa, Yanti membutuhkan waktu hingga 3 bulan untuk uji coba resep. Menurut Yanty, takaran rempah sangat menentukan rasa. “Jika terlalu sedikit, rasa rempah tidak akan maksimal dan sebaliknya, jika kebanyakan rempah, rasa teh menjadi pahit. Proses fermentasi juga tidak boleh terlalu lama agar rasanya tidak berubah menjadi asam.”

Keistimewaan Teh Kombucha Rempah, Sari Buah dan Bunga produksinya, bercita rasa manis bersoda. Menghadirkan harmoni dari rasa manis, asam, serta aroma dan rasa rempah dari varian Jahe – Telang, Kecombrang – Mawar, Pala – Buah Naga Merah, Serai – Kunyit serta Sari Buah Mangga Kuweni dan Sirsak.

“Setiap varian Teh Kombucha hanya menggunakan 1 jenis rempah agar memiliki ciri khas serta rasanya lebih nikmat. Khusus untuk varian serai – kunyit, kunyit digunakan dalam ukuran sedikit, hanya untuk mendapatkan warna agar minuman kian menarik, “ujar Yanty menjelaskan.

Teh Kombucha Rempah Sari Buah dan Bunga bisa dikonsumsi dalam jangka waktu 1 minggu, jika di simpan dalam lemari pendingin. Dan, 3 hari di suhu ruang. Jika disimpan dalam suhu ruang rasanya menjadi asam bersoda.

Dalam lemari pendingin, bakteri menjadi kurang aktif, namun fermentasi akan terus berlangsung.

Satu botol Teh Kombucha isi 250 ml untuk semua varian dijual Rp. 30,000,-. belum termasuk ongkos kirim. Dalam seminggu, Yanty harus memasok 50 botol Teh Kombucha ke pelanggan tetap dan menyediakan 35 botol untuk pembeli lainnya.

Pemasaran dilakukan secara daring, untuk sementara hanya melayani wilayah Jabodetabek.

Kombucha dapat diminum setiap hari. Untuk dewasa sebanyak 200 ml (1 gelas), anak usia 1 – 2 tahun, 1/10 hingga 1/5 dari dosis orang dewasa, dengan catatan jika anak sudah bisa mencerna madu. Bagi yang sedang meminum obat, sebaiknya jeda 2 jam sebelum meminum Teh Kombucha.

Peran Multitasking Membumikan Rempah Nusantara

Layaknya pelaku usaha skala UMKM, Yanty melakukan peran multitasking demi membesarkan produknya.

Dari mencari formulasi rempah, buah dan bunga yang sesuai, proses produksi, marketing, hingga membuat produk promosi dengan menjadi food stylish dan fotographer.

Promosi menggunakan media sosial, serta ke anggota komunitas kuliner dianggap paling efektif. Selain promosi dari mulut ke mulut oleh pembeli ke calon pembeli.

Buah manis dari hasil kerja kerasnya selama pandemi, kini dapat ia nikmati. Kombucha Rempah, Buah dan Bunga menjadi produk unggulan dari varian minuman probiotik yang digemari masyarakat, khususnya generasi milenial. Ia sudah cukup bersyukur keinginannya untuk mengenalkan rempah Nusantara ke generasi milenial mendapat respon positif. “Mereka memilih dan menjadikan produk Teh Kombucha Rempah dan Buah buatan saya, menjadi alternatif minuman sehat ketika aktifitas, “ujar Yanty bahagia.

“Target ke depan, saya ingin menjadikan produk minuman probiotik buatan saya menjadi lebih baik, bisa memproduksi dalam skala besar untuk memenuhi permintaan pasar yang kian luas. Saya juga akan mengembangkan usaha ini dalam berbagai aspek, agar bisnis saya naik kelas.
Saya bersyukur, keluarga sangat mendukung usaha, “kata Yanty menceritakan harapannya.

Pengalaman Berguru ke Suhu Kombucha

Di Indonesia, sosok Arsenius dikenal sebagai praktisi yang mengenalkan Teh Kombucha melalui metode kursus. Mulai populer pada tahun 1992, kombucha sesungguhnya bukanlah jamur, melainkan kumpulan Bakteri yang menguntungkan tubuh.

Ragi yang hidup berkoloni membentuk kultur seperti gelatin yang disebut scoby.
Scoby berfungsi mem – fermentasi gula pada teh manis menjadi Teh Kombucha. Secara garis besar Kombucha bekerja mengeluarkan racun dalam tubuh (detoksifikasi).

Teh Kombucha bukanlah minuman obat, melainkan minuman probiotik yang mengandung mikroorganisme hidup. Jika digunakan dalam jumlah yang tepat, akan memberikan manfaat bagi kesehatan. Kaya vitamin B dan Asam Amino yang berguna untuk memperbaiki sistem kekebalan tubuh. Mengembalikan keseimbangan tubuh melalui detoksifikasi dan meningkatkan fungsi pencernaan setelah keseimbangan tubuh dan kekebalan tubuh menjadi baik, yang berguna untuk melawan penyakit.

Ragi dalam scoby memfermentasi gula menjadi alkohol, tapi dalam jumlah yang sangat kecil, hanya 1 %.

Yanty Dygg menceritakan, sebelum berbisnis Teh Kombucha, ia berguru dengan Arsenius, sosok guru flamboyan yang mendedikasikan hidupnya untuk Kombucha.

Teh Kombucha diracik menggunakan ragi jenis scoby, teh hijau atau teh hitam, gula pasir dan air dengan tambahan rempah, buah segar dan bunga.

Proses pembuatannya menurut Yanty terbilang sederhana dan mudah dilakukan. “Air, Teh dan gula pasir direbus hingga mendidih, kemudian diangkat dan didiamkan hingga dingin. Saring, lalu tuangkan ke dalam toples kaca besar. Agar scoby aktif dan berfermentasi, oles tangan dengan cuka. Masukkan scoby dengan tangan ke dalam larutan teh, hingga mengapung. Kemudian tutup toples dengan serbet kering bersih.

Simpan toples dalam suhu ruang, diamkan selama 7 – 14 hari untuk hasil fermentasi yang maksimal. Kemudian hasil fermentasi bisa dipanen berupa Teh Kombucha.

Proses fermentasi ke dua dengan memasukkan rempah, buah dan bunga, dikenal dengan istilah infused. Rempah seperti jahe, serai dan kunyit harus diiris-iris. Buah bisa dipotong-potong untuk mendapatkan rasa yang tidak terlalu kuat, atau dihaluskan agar rasa buahnya kian menggoda selera.

Saya menggunakan bunga mawar dan bunga telang, agar aroma dan warna Teh Kombucha kian istimewa dan menarik.

Fermentasi ke dua dilakukan selama 1 – 3 pada suhu ruang, “kata Yanty menjelaskan.

Teh Kombucha Jahe – Bunga Telang, Selain nikmat, kaya Antioksidan untuk detosifikasi. Foto: Istimewa

Bukti Cinta Menjadi Warisan Berharga

Di masa pandemi, Teh Kombucha menjadi minuman istimewa yang banyak dicari masyarakat. Ada beragam manfaat diantaranya:

*Berperan dalam kesehatan usus dan kekebalan tubuh.
*Teh Kombucha yang diracik menggunakan teh hijau, kaya antioksidan. Banyak senyawa bioaktif seperti polifenol yang berfungsi sebagai Antioksidan kuat dalam tubuh.
*Menguatkan sistem imun, Kombucha dapat membunuh mikroba dan membantu melawan berbagai bakteri.
*Membantu meningkatkan kesehatan mental. Efek anti – inflamasi Kombucha dapat meringankan beberapa gejala depresi, namun harus dibuktikan dengan penelitian lebih lanjut.

Ada banyak literasi yang menceritakan sejarah Teh Kombucha. Salah satunya, Teh Kombucha merupakan minuman kuno masyarakat Cina sejak 3000 ribu tahun lalu. Dinamakan “tea of immortality”, minuman teh panjang umur karena beragam manfaat kesehatan yang terkandung dalam Teh Kombucha. Dari Cina, Teh Kombucha menyebar ke Bali.

Diceritakan, ada seorang putri saudagar Cina bernama Kang Cing Wie yang berkunjung ke Bali bersama ayahnya Kang, yang berprofesi sebagai saudagar. Putri memberikan banyak hadiah kepada raja. Salah satunya jamur kombucha yang menarik perhatian Raja Sri Jayapangus yang berkuasa pada tahun 1118 – 1269.

Raja kemudian berkenan menikahi Putri Kang Cing Wie dan menjadikannya sebagai permaisuri. Dari sini, Teh Kombucha kemudian tersebar ke seluruh Bali. Dijadikan minuman populer masyarakat Bali pada saat itu, dikenal dengan nama Teh Wong (teh jamur). Saat ini, Ning Kombucha merupakan Teh Kombucha asal Bali yang telah diproduksi massal dalam kemasan praktis. (Bud)

Sumber Tulisan :

1. Diantara Wangi Wedang Uwuh dan Cuaca Dingin Kota Bogor :

Sejarah Wedang Uwuh
Harian Temanggung, 24 Desember, 2018
Shelly Fitri Afifah,
mahasiswi kelas PAI 1A, STAINU – Temanggung

2. Pengalaman Berguru ke Suhu Kombucha:

Cara Membuat Teh Kombucha : https://www.sehatq.com

3. Bukti Cinta Menjadi Warisan Berharga

Manfaat Teh Kombucha:

Liputan6.com

Sejarah Teh Kombucha Masuk ke Bali:

WikiKombucha. com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.