WartaPenaNews, Jakarta – PT Bank Permata Tbk (“PermataBank†atau “Bankâ€) mampu mempertahankan kinerja keuangan yang solid pada akhir triwulan III 2020, di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi sebagai dampak dari pandemi COVID-19 dan ketidakpastiaan ekonomi global. PermataBank mencatatkan pertumbuhan pendapatan operasional sebelum pencadangan sebesar Rp2,6 triliun, tumbuh 20,4% year-on-year (yoy) yang didukung dengan posisi permodalan yang sangat kuat dan likuiditas yang terjaga optimal. Dengan dukungan Bangkok Bank Public Company Limited (“Bangkok Bankâ€) sebagai pemegang saham pengendali yang baru, PermataBank optimis akan membukukan pertumbuhan bisnis secara berkesinambungan dengan permodalan yang kuat untuk menopang pertumbuhan dan pemulihan kondisi perekonomian di Indonesia paska pandemi.
 Ridha D.M. Wirakusumah, Direktur Utama PermataBank mengatakan, “Optimisme terhadap kinerja PermataBank di Kuartal III 2020 yang terjaga solid di tengah hantaman krisis keuangan global akibat pandemi merupakan usaha Bank dalam mempertahan kan pembukuan laba usaha, kualitas aset yang tetap terkendali, menjaga likuiditas secara optimal dan posisi permodalan yang sangat kuat. Didukung oleh persetujuan integrasi yang diberikan oleh regulator antara Bangkok Bank Indonesia dan PermataBank pada 7 Oktober 2020 lalu. Sekaligus memberikan masa depan Bank kami bergabung dalam jajaran BUKU IV di Indonesia.â€
PermataBank membukukan pertumbuhan pendapatan operasional sebelum pencadangan 20,4% yoy dibandingkan periode yang sama tahun lalu, terutama dikontribusikan baik oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih sebesar 8,6% dan pendapatan non-bunga sebesar 9,0% yoy. Pencapaian ini diikuti dengan perbaikan rasio marjin bunga (Net Income Margin atau NIM) menjadi 4,4%, meningkat dari 4,2% di periode yang sama tahun lalu. Disiplin dalam manajemen biaya operasional yang didukung dengan penerapan teknologi digitalisasi dalam transaksi perbankan telah membantu Bank untuk terus meningkatkan rasio efisiensi yang berkelanjutan. Cost to Income Ratio (CIR) tercatat sebesar 59,8%, membaik secara signifikan dibandingkan posisi tahun lalu sebesar 63,6%. Hal ini juga sejalan dengan peningkatan jumlah transaksi digital PermataBank selama tahun 2020 dan telah menjadi pilihan utama nasabah dalam beradaptasi dengan masa new normal. Terbukti dengan peningkatan volume transaksi mobile banking sebesar 69% dan API (application programming interface) sebesar 400% di tahun 2020 yang lebih tinggi dibandingkan volume transaksi sepanjang 2019.
Sejalan dengan prinsip kehati-hatian dalam menghadapi dampak COVID-19, sampai dengan Triwulan III 2020 ini PermataBank telah mengalokasikan biaya pencadangan penurunan kualitas aset yang cukup signifikan sebesar Rp1,86 triliun dengan memperhitungkan potensi peningkatan kerugian kredit sebagai akibat dari perlambatan pertumbuhan perekonomian yang berdampak pada profil risiko portofolio kredit. Sebagai akibat dari penurunan tarif Pajak Penghasilan Badan (PPh) dari 25% menjadi 22% yang berlaku efektif di bulan Maret 2020, Bank juga mengakui tambahan beban pajak tangguhan yang berdampak pada penurunan laba setelah pajak.
Dalam menghadapi tantangan yang timbul sebagai dampak pandemi COVID-19, PermataBank melakukan upaya strategis dengan tetap menjalankan fungsi sebagai Universal Bank yang memberikan layanan terbaik bagi para nasabah Ritel, Korporasi dan Syariah. Bank tetap memfokuskan penyaluran kredit bagi nasabah yang sehat. Penurunan kredit yang diberikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu terutama disebabkan oleh perlambatan pertumbuhan kredit yang dikontribusikan oleh perlambatan pertumbuhan perekonomian di Indonesia dan penerapan prinsip kehati-hatian untuk menjaga kualitas portofolio kredit.
Selama Triwulan III 2020, sejalan dengan arahan regulator, Bank melaksanakan program restrukturisasi dan relaksasi kredit bagi nasabah yang terdampak COVID-19. Sampai dengan akhir bulan September 2020, sekitar 11,6% dari portofolio kredit yang diberikan mengajukan permohonan restrukturisasi dan relaksasi dimana sebagian besar telah diselesaikan. Selain itu, PermataBank terus memperkuat layanan perbankan digital yang prima, dengan memanfaatkan dan menanamkan proses digital dalam penerapan transaksi perbankan yang beroperasi dengan mudah, cepat, dan aman terutama melalui PermataMobile X dan PermataNet sebagai jalur transaksi utama bagi nasabah dalam menghadapi masa new normal
Non-Performing Loan (NPL) Bank masih dapat dikelola dengan baik di level yang aman ditengah penurunan kualitas aset di industri perbankan Indonesia. Rasio NPL gross tercatat sedikit meningkat ke level 3,8% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 3,3% dengan NPL net yang terjaga pada level 1,5% dibandingkan posisi September 2019 sebesar 1,2%. Bank melakukan upaya berkelanjutan untuk perbaikan NPL melalui restrukturisasi kredit bermasalah, penghapusan kredit, penjualan kredit NPL dan pertumbuhan kredit good book.
Posisi likuiditas Bank terjaga dengan baik dibuktikan dengan rasio likuiditas Loan-to-Deposit Ratio (LDR) optimum sebesar 74,5% di bulan September 2020 dan rasio CASA tercatat sebesar 50,8%, meningkat 103 basis poin dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Total dana simpanan masyarakat tumbuh sebesar 11,1% yoy, kontribusi terbesar dari pertumbuhan produk Giro sebesar 18,3%, diikuti oleh Tabungan dan Deposito masing-masing 8,2% dan 8,9% yoy. Hal ini menunjukkan bahwa ditengah kondisi ekonomi yang sulit PermataBank masih dipercaya oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan transaksi perbankan dan mengelola operasional bisnis serta kebutuhan likuiditasnya dengan baik.
Dari sisi permodalan, rasio Common Equity Tier 1 (CET-1) dan Capital Adequacy Ratio (CAR) juga terjaga dengan kuat pada posisi September 2020 masing-masing sebesar 20,5% dan 21,6%, meningkat dibanding 18,6% dan 19,8% pada periode yang sama tahun lalu, jauh lebih tinggi dari ketentuan minimum modal yang berlaku.
Fase Integrasi dengan Bangkok Bank Kantor Cabang Indonesia Menuju Bank Buku IV
 Setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan persetujuan prinsip atas rencana melakukan integrasi usaha dengan seluruh cabang Bangkok Bank di Indonesia (BBI) efektif tanggal 7 Oktober 2020, PermataBank telah mengumumkan rencana integrasi dengan Bangkok Bank Kantor Cabang Indonesia untuk mendukung kebijakan konsolidasi perbankan di Indonesia dan memberikan dampak positif bagi seluruh pemangku kepentingan. Rencana realisasi integrasi ini ditargetkan akan diselesaikan pada akhir Desember 2020.
Integrasi ini akan menyatukan kekuatan Bangkok Bank, salah satu bank terdiversifikasi di Asia yang telah hadir di Indonesia selama 52 tahun dengan PermataBank, salah satu dari 15 Bank terbesar di Indonesia. Entitas hasil integrasi diproyeksikan akan memiliki modal inti di atas Rp30 trilyun, membuat PermataBank memenuhi syarat regulasi untuk menjadi salah satu bank BUKU IV di Indonesia. Lebih lanjut, integrasi ini akan membantu meningkatkan kemampuan dan mendukung strategi PermataBank menjadi Universal Bank yang mampu memberikan solusi perbankan digital dan komersial secara lebih lengkap bagi nasabah Ritel, UMKM dan Korporasi serta Syariah dengan basis nasabah dan jaringan yang lebih luas.
“Dengan berbagai aksi korporasi yang kami alami dan perubahan strategi bisnis yang terus berkembang sejauh tahun 2020 ini, PermataBank akan terus membangun kinerja sebagai bank pilihan dan memberikan nilai bermakna bagi pemangku kepentingan kami. Kedepannya kami melihat PermataBank tumbuh menjadi bank papan atas di Indonesia yang terus menerapkan prinsip prudential banking dalam risk management yang kuat dalam pengembangan bisnis dengan do the right things, do the things right, with the right tools.†tutup Ridha. (cim)