Kurnadi: Hadapi VUCA, Startups Perlu Terapkan Paradigma Baru Dalam Berbisnis

oleh -

WartaPenaNews, JAKARTA – Dalam menghadapi lingkungan bisnis yang bersifat VUCA (volatile/bergejolak, uncertain/tidak menentu, complex/kompleks/rumit, ambiguous/tidak jelastersebu), digital startup Indonesia harus menerapkan paradigma baru dalam bisnis yaitu berhenti memakai strategi sustainable competitive advantages (keunggulan bersaing yang berkelanjutan) dan beralih ke strategi rangkaian transient advantages (keunggulan yang bersifat sementara) agar bisnisnya dapat bertahan hidup dan bahkan secara kontinyu tumbuh dengan signifikan.

Demikian dikatakan Kurnadi Gularso ditengah gelaran  siang akademik dalam rangka Ujian Promosi Doktor Ilmu Manajemen, untuk Calon Doktor dirinya dengan disertasi berjudul:
Peran Inovasi Model Bisnis yang Disruptif dalam Mencapai Keunggulan Transien dengan Moderasi Ikatan Komunitas, Studi pada Usaha Rintisan Digital di Indonesia.

Kurnadi Gularso dalam ringkasan disertasinya, menyebutkan fenomena bisnis yang ada saat ini dapat dibagi menjadi tiga hal. Yakni, 1) disrupsi bisnis di mana-mana; 2) lingkungan bisnis bersifat VUCA (volatile/bergejolak, uncertain/tidak menentu, complex/kompleks/rumit, ambiguous/tidak jelas); 3) tingkat kegagalan bisnis digital (tech) startups yang relatif tinggi (hingga mencapai 90%).

“Startup perlu menerapkan disruptive business model innovation (DBMI) atau inovasi model bisnis yang bersifat disruptif untuk mencapai advantages. Sementara itu untuk meningkatkan pencapaian transient advantage, startups perlu menerapkan community engagement (ikatan komunitas) dengan komunitas-komunitas terkait dengan tujuan startups seperti komunitas users/customers, partners atau mitra baik mitra pendanaan maupun mitra operasi, serta komunitas founders,” ujarnya.

Selanjutnya terkait bisnis rintisan atau startup, khususnya, di kalangan mahasiswa Kurnadi menegaskan perlunya kesiapan mental serta qqjiwa kepemimpinan (leadership) sehingga akan dapat mampu bertahan di dunia bisnis yang penuh gejolak.

“Banyak startup kita yang tidak bertahan lama, karena tidak memiliki leadership serta tidak berorientasi pelayanan atau customer service. Selain itu, mereka harus berani mengambil risiko tinggi dan punya kemampuan rekonfigurasi sumber daya serta terus menerus memperbarui. Di sini startup kalangan mahasiswa juga harus siap mental,” kata Kurnadi Gularso usai kelulusan Sidang Promosi Doktor Ilmu Manajemen.

Menambahkan pernyataannya, ia memaparkan selain menyiapkan mental yang positif, mahasiwa juga harus terus mencari critical thinking atau berpikir kritis serta mencari peluang baru. Dalam kaitan ini, hemat dia, pemerintah diimbau untuk turut mendukung dengan membangun ekosistem bagi pemula rintisan usaha ini.

“Oleh karenannya pemerintah diharapkan berkontribusi pada pembangunan ekosistem yang mendukung pertumbuhan startups termasuk pembangunan infrastruktur dan regulasi yang diperlukan institusi, ” ingin Kurnadi.

Mantan corporate secretary PT Adhi Karya ini juga mengharpak beberapa hal berikut; Pemerintah sebaiknya terkoordinasi menjadi satu pintu dalam menumbuhkembangkan startups dan ekosistemnya. Sehingga dapat diterapkan berbagai program akselerator seperti insentif pajak, subsidi dalam pembinaan, dan menjembatani pencarian dengan investor. Pemerintah juga diharapkan berkontribusi dalam program pembangunan sumber daya manusia dan talent yang siap pakai sesuai dengan teknologi yang berkembang serta membangun masyarakat yang literasi digital.

Hadir pada sidang disertasi Kurnadi Gularso, diantaranya Bapak Fajar Harry Sampurno, Deputi Bidang Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN, yang juga sebagai keynote speaker. Hadir pula sejumlah perwakilan BUMN maupun entitas swasta serta pegiat startups.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.