28 February 2024 - 00:51 0:51

Soal Dua Mayat Wanita Dicor Semen, Pelaku Pembunuhan Kian Sadis

wartapenanews.com –  Pembunuhan sadis kembali terjadi. Kali ini muncul dua wanita dibunuh dengan cara dicor semen di Bekasi Utara. Sebelumnya ada pembunuhan berantai oleh Wowon Cs dan pelaku mutilasi M Ecky Listiantho. Mereka melakukan pembunuhan dengan sadis. Apakah mereka memiliki gangguan kejiwaan?

Kasus terakhir yang mencuri perhatian publik adalah pembunuhan dua wanita HP (47) dan YP (48) yang dicor semen di Kelurahan Harapan Jaya, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi, Jawa Barat. Selain mayat dua perempuan, polisi juga menemukan seorang lelaki berinisial P yang diduga pengontrak rumah dengan kondisi luka di bagian tangan.

Terduga pelaku sudah meninggal karena bunuh diri di lokasi kejadian. Baik pelaku maupun kedua korbannya ternyata saling mengenal dan teman satu sekolah saat SMP. Polda Metro Jaya masih mendalami motif pembunuhan dua wanita ini dan akan mendalami motif secara digital forensik dan keterangan para saksi. “Saya juga berharap pada rekan-rekan media segera terungkap, motif masih didalami dalam proses penyidikan,” ujar Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko Trunoyudo, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Rabu (1/3/2023).

Sebelumnya kasus pembunuhan yang tak kalah sadis dilakukan tiga pelaku, yakni Wowon Erawan alias Aki (60), Solihin alias Duloh (63), dan Dede Solehudin (35). Kasus ini bermula dari temuan tiga dari lima orang yang tinggal di sebuah kontrakan di Ciketingudik, Bantar Gebang, Kota Bekasi, dinyatakan meninggal dunia. Semula mereka diduga mengalami keracunan.

Polisi menemukan sejumlah muntahan makanan di dekat tubuh para korban yang ditemukan tergeletak di dalam rumah. Korban yang meninggal atas nama AM (35), RAM (21) dan MR (19) diketahui memiliki hubungan darah yakni ibu dan anak. Mereka tercatat sebagai warga Cianjur dan telah dimakamkan di kampung halamannya.

Belakangan dari penyeledikan polisi Wowon Cs ini telah membunuh 9 orang. “Mereka melakukan serangkaian pembunuhan atau serial killer,” ujar Kapolda Metro Jaya, Inspektur Jenderal Polisi Fadil Imran di Markas Polda Metro Jaya.

Kasus pembunuhan berujung mutilasi yang dilakukan Ecky Listiantho (34) terhadap Angela Hindriati Wahyuningsih (54) juga tak kalah menggemparkan. Ecky membunuh Angela di apartemennya pada 25 Juni 2019 dini hari dengan cara dicekik. Jasad Angela didiamkan selama satu bulan usai dibunuh. Sekitar bulan Agustus 2019, Ecky kembali ke apartemen dengan membawa gergaji besi untuk memutilasi jasad Angela dan membawanya ke rumah kontrakannya, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Aksi Ecky terbilang sadis karena potongan tubuh korban yang dimutilasi tersimpan dalam 2 boks kontainer di kontrakannya. Diduga Angela dibunuh Ecky yang sudah beristri karena ngotot ingin minta dinikahi. Ecky juga diduga tertarik dengan harta yang dimiliki korban.

Sebenarnya masih banyak kasus pembunuhan sadis yang terjadi di Tanah Air sebelum-sebelumya. Para pelakunya tak segan-segan menghabisi orang lain tampa ampun. Bahkan korbannya lebih dari satu, dan menutupi kejahatannya tanpa rasa takut.

Dalam kasus pembunuhan sadis yang membuat bergidik ini seringkali pelakunya dianggap memiliki gangguan jiwa karena kebanyakan orang normal tidak pernah membayangkan melakukan hal yang seperti itu. Menurut Psychology Today, pembunuh kebanyakan adalah orang yang memiliki masalah mental dan sakit secara emosional. Penyebabnya beragam bisa jadi karena kesedihan yang mendalam, depresi, atau rasa putus asa. Perasaan tersebut bisa muncul akibat pengalaman buruk yang beruntun atau terus menerus disertai dengan sedikitnya pengalaman baik yang dialami.

Dalam beberapa kasus pembunuhan, terutama pembunuhan berantai menunjukkan gejala psikosis, (gangguan membedakan imajinasi dengan realita) sementara yang lain didiagnosis dengan gangguan bipolar (perubahan drastis pada suasana hati) yang parah. Namun, sangat sedikit pembunuh berantai yang dianggap cukup sakit jiwa untuk dinyatakan gila secara hukum.

Motif para pembunuh seperti serial killer, masih menurut Psychology Today, tidak selalu karena alasan gangguan kejiwaan. Ada faktor lain seperti keuntungan finansial sampai keinginan untuk menguasai yang membuat pelaku menjadi pembunuh. “Penting untuk diingat bahwa terlepas dari motif spesifik pembunuh berantai melakukan pembunuhan, mereka melakukannya karena mereka ingin dan mau melakukannya,” jelas kriminolog dan profesor di University of Miami, Prof Dr Scott Bonn. (mus)

Follow Google News Wartapenanews.com

Jangan sampai kamu ketinggalan update berita menarik dari kami.

Berita Terkait

|
27 February 2024 - 12:12
Ini Penyebab Sakit Kepala karena Sering Begadang

WARTAPENANEWS.COM  -  Terlalu asik mengerjakan sesuatu terkadang membuat Anda lupa waktu untuk beristirahat. Kerap kali waktu tidur di malam hari dimanfaatkan untuk begadang menyelesaikan beberapa pekerjaan atau sekadar asik berselancar

01
|
27 February 2024 - 11:08
Rumah Warga di Cilodong Kebakaran

WARTAPENANEWS.COM  - Sebuah rumah di Perumahan Taman Cimanggis Indah, Sukamaju, Cilodong, Kota Depok, kebakaran, pada Senin 26 Februari 2024, sekira pukul 23.55 WIB. Kasi Penyelamatan Dinasb Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan

02
|
27 February 2024 - 10:13
Pemkot Depok Tutup JPO di Taman SeCawan untuk Sementara

WARTAPENANEWS.COM  - Pemerintah Kota (Pemkot) Depok melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) menutup sementara jembatan penyebrangan orang (JPO) yang ada di Taman SeCawan Jalan Salak, Depok Jaya, Pancoran Mas,

03