Anak Ibu yang Meninggal karena Corona di Surabaya Reaktif

Ilustrasi Foto: Nasional Tempo.co

WartaPenaNews, Jakarta – Seorang ibu dan janinnya di Kota Surabaya, Jawa Timur, meninggal dunia karena terpapar Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19. Di saat bersamaan, ayah dan ibunya yang tinggal satu rumah juga meninggal dengan status pasien dalam pengawasan atau PDP. Sedihnya, si wanita malang itu memiliki anak usia 17 bulan yang hasil rapid test-nya reaktif.

DW, adik dari wanita yang meninggal dunia itu, bercerita, bersama suami dan anak, kakaknya tinggal satu rumah dengan kedua orang tua mereka di kawasan Gubeng, Surabaya. “(Kakak) sudah punya anak, (usianya) 17 bulan. Sekarang sama suaminya sedang isolasi mandiri di sebuah hotel karena rapid-nya reaktif,” ujarnya melalui pesan singkat pada Kamis, 4 Juni 2020.

Ia menjelaskan, duka itu bermula ketika kakaknya memeriksakan kandungan yang berusia delapan bulan ke sebuah rumah sakit di kawasan Ampel, Surabaya, pada pertengahan Mei 2020. Ke sana, ia diantar oleh suaminya. Sepulang dari rumah sakit, suami kakak DW sakit, namun sembuh sendiri. Setelah itu, giliran kakak DW yang nge-drop.

“Seingat saya tanggal 19 Mei, kakak tak enak badan, terus dibawa ke RS Pura Raharja. Di situ di-rapid dan hasilnya negatif, kemudian pulang. Tapi enggak semakin membaik, malah semakin sesak napas. Tanggal 25 (Mei), saya antar ke RS PHC, kemudian disuruh rawat jalan,” cerita DW.

Karena belum juga membaik, besoknya, 26 Mei 2020, kakak DW dibawa ke RS PHC Surabaya lagi. Beberapa jam kemudian, pihak RS memberi kabar kalau ia terkonfirmasi positif Covid-19. Pada Rabu dini hari, 27 Mei 2020, pihak RS memberi kabar bahwa kakak DW mengalami gagal napas dan dibantu ventilator.

Saat itu, detak jantung janin kakak DW yang berusia delapan bulan diketahui tidak berdetak lagi. “Kakak saya meninggal tanggal 31 (Mei) pukul 01.50 setelah operasi pengeluaran janin sehari sebelumnya,” ujar DW.

Saat sang kakak dirawat di rumah sakit, DW menceritakan kondisi kesehatan ibunya juga nge-drop pada Hari Raya Idul Fitri pertama, Minggu, 24 Mei 2020. Besoknya, ayah DW juga nge-drop. Sang ibu kemudian diantar ke RKZ. Di sana, sang ibu diinfus dan disuruh rawat jalan.

“Besoknya kembali lagi ke IGD (RKZ), kemudian disuruh isolasi mandiri di rumah. Kemudian tanggal 29 (Mei) pagi, mama telepon minta di-grab-kan ke RSI, saya enggak dibolehin antar takut ketularan drop. Mama berangkat pagi. Papa nyusul siangnya, dijadikan satu kamar isolasi di RSI,” ujarnya.

Pada Sabtu pagi, tanggal 30 Mei 2020, ayah DW meninggal dunia. Tak lama kemudian, ibunya menyusul meninggal dunia. “Papa-mama belum sempat swab. Jadi, meninggal berstatus PDP (pasien dalam pengawasan),” ujarnya.

Kendati sedih, DW dan keluarga mengaku pasrah dan rela atas takdir Allah tersebut. Ia yakin ketiga orang yang dicintainya itu husnul khatimah.

“Pesan saya tetap selalu sama. Covid 19 itu nyata dan sangat jahat. Banyak yang menganggap remeh atau mungkin menyepelekan, tapi virus ini benar benar ada dan enggak bisa dianggap remeh. Jadi harus sadar akan kesehatan, kebersihan dan kalau memang tidak perlu kemana mana lebih baik dirumah saja,” katanya. (mus)