Bisnis Berskala Kecil di ASEAN Mengandalkan Teknologi untuk Bertahan Melawan Covid-19

Ilustrasi bank UOB Foto: Akurat.co

WartaPenaNews, Jakarta – Bisnis berskala kecil di ASEAN mengandalkan teknologi untuk mendukung
operasional bisnis mereka sebagai upaya mengatasi dampak pandemi COVID-19. Teknologi menempati
peringkat teratas sebagai prioritas investasi pada tahun 2020 oleh dua dari tiga (64 persen) bisnis kecil,
termasuk mereka yang saat ini memiliki tantangan arus kas. Survei terbaru ini dilakukan terhadap 1.000
usaha kecil ASEAN oleh United Overseas Bank (UOB), Accenture dan Dun & Bradstreet. Survei ini
bertujuan untuk memahami bagaimana perusahaan kecil beradaptasi dengan lingkungan bisnis terkait
perubahan yang disebabkan oleh pandemi.

Di ASEAN, Thailand memiliki responden tertinggi (71 persen) yang memprioritaskan investasi teknologi
pada tahun 2020, diikuti oleh Indonesia (65 persen), Vietnam (63 persen), Singapura (60 persen) dan
Malaysia (59 persen).

Dalam survei ini juga ditemukan bahwa usaha kecil di ASEAN berupaya untuk berinvestasi pada
teknologi bahkan ketika dihadapkan dengan prospek penurunan pendapatan. Meskipun hampir sembilan dari 10 (88 persen) bisnis ini telah menurunkan ekspektasi pendapatan mereka pada tahun 2020, hampir
setengahnya (44 persen) masih berencana untuk meningkatkan anggaran teknologi secara keseluruhan.
Hal ini menunjukkan bahwa usaha kecil ASEAN melihat tantangan saat ini jauh ke depan dan akan
mengadopsi teknologi untuk meningkatkan daya saing dan keberlanjutan bisnis mereka.

Lawrence Loh, Head of Group Business Banking, UOB, mengatakan, “Dampak COVID-19 terhadap
aspek ekonomi, bisnis, dan sosial yang belum pernah terjadi sebelumnya telah menggarisbawahi
pentingnya teknologi bagi banyak usaha kecil di ASEAN. Setelah dihadapkan pada gangguan
operasional bisnis mereka akibat COVID-19, banyak dari perusahaan-perusahaan ini dengan cepat
menyadari bahwa teknologi dapat membuat perbedaan pada bisnis mereka. Baik melakukan perubahan
model bisnis atau operasional bisnis, usaha kecil merespon pada perubahan yang disebabkan oleh

Survei ini dilakukan kepada 1.000 usaha kecil dengan omset tahunan S$20 juta atau lebih kecil sebelum dan selama pandemic
COVID-19, masing-masing pada kuartal ketiga 2019 dan Mei 2020. Usaha kecil yang disurvei beroperasi di lima pasar ASEAN
yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand dan Vietnam.

pandemi dengan beralih pada teknologi untuk memastikan kelangsungan dan daya saing jangka panjang
mereka.”

Dalam sektor industri, usaha kecil dari sektor makanan dan minuman (F&B), teknologi informasi dan
komunikasi serta sektor kesehatan (50 persen) menunjukkan keinginan kuat untuk meningkatkan
investasi teknologi mereka, diikuti oleh bisnis yang bergerak di bidang konstruksi (48 persen) dan
perdagangan ritel (46 persen).

Lawrence mengatakan, “Di UOB, kami selalu berusaha untuk dekat dengan nasabah bisnis kecil kami
untuk membantu mereka melalui tantangan di masa-masa sulit ini. Selain mendukung kebutuhan
keuangan mereka, kami membantu mereka mengidentifikasi dan mengimplementasikan solusi digital
yang memungkinkan mereka untuk mengelola operasional bisnis mereka secara efektif dan virtual.
Misalnya, untuk usaha kecil Singapura di sektor-sektor yang terdampak, seperti F&B, kami membantu
merubah fokus bisnis fisik mereka pada pembelian secara online. Melalui kolaborasi kami dengan
Google, kami memberikan kemudahan kepada perusahaan-perusahaan tersebut untuk mendaftarkan
bisnis mereka secara digital seperti Google My Business2

dan membuat profil online yang kuat untuk

menarik lebih banyak nasabah baru.”

Selain teknologi, usaha kecil di ASEAN tertarik untuk berinvestasi dalam pengembangan keterampilan
karyawan mereka (51 persen) serta mesin-mesin atau alat lainnya (40 persen). Prioritas investasi
terendah mereka adalah kendaraan bermotor (18 persen).

Teknologi membantu usaha kecil mengelola arus kas dan tantangan biaya
Ketika usaha kecil di ASEAN memanfaatkan teknologi untuk menciptakan model bisnis yang lebih
berkelanjutan untuk jangka panjang, mereka menyadari bahwa teknologi juga dapat membantu
mengelola arus kas dengan lebih baik. Delapan dari 10 (81 persen) usaha kecil di seluruh kawasan
menilai penggunaan solusi digital sebagai metode manajemen arus kas yang paling diminati.

Divyesh Vithlani yang memimpin layanan keuangan Accenture di Asia Tenggara, mengatakan, “Ketika
semakin banyak bisnis kecil bersiap untuk membuka kembali setelah periode yang sangat menantang,
fokus mereka pada teknologi akan semakin intensif karena mereka berupaya menciptakan kembali diri
mereka sendiri untuk memastikan daya saing dan ketahanan bisnis jangka panjang. Usaha kecil yang
fokus pada transformasi digital akan menjadi lebih gesit dan bertahan di masa depan serta menikmati
imbal hasil yang cepat. Investasi dalam teknologi ini akan sangat penting karena usaha kecil adalah
tulang punggung negara-negara di kawasan ini dan juga merupakan mesin pertumbuhan kami, sehingga
kembalinya sektor UKM pasca-COVID-19 akan menjadi titik balik yang cepat untuk perekonomian
ASEAN. ”

Usaha kecil ASEAN juga mengurangi tekanan arus kas mereka melalui penundaan pembayaran
pinjaman (75 persen) dan menegosiasikan kembali ketentuan kontrak mereka dengan pemasok dan
pemilik tanah (75 persen). Selain itu, mereka juga berupaya meningkatkan modal kerja mereka melalui
skema pembiayaan terkait COVID-19 (73 persen). Salah satu contoh skema pembiayaan tersebut adalah
inisiatif UOB dalam menyediakan nasabah bisnis kecil yang memenuhi syarat di Singapura dengan plafon
pembiayaan yang telah disetujui sebelumnya hingga S$200.000 sehingga mereka memiliki akses ke
sumber dana yang tersedia jika diperlukan5
.

Audrey Chia, Chief Executive Officer, Dun & Bradstreet Singapura, mengatakan, “Meskipun ada
ketidakpastian selama pandemi COVID-19, potensi pertumbuhan jangka panjang ASEAN tetap
memberikan demografi yang menguntungkan di kawasan tersebut seiring dengan meningkatnya tingkat
konsumsi. Sementara usaha kecil ASEAN menghadapi tantangan akibat COVID-19, kita dapat melihat
bahwa mereka masih mengambil langkah-langkah praktis untuk meningkatkan ketahanan bisnis serta
3 UOB BizSmart adalah solusi bisnis terintegrasi berbasis cloud yang membantu bisnis kecil mendigitalkan operasional bisnis mereka.

Berdasarkan studi US Federal Reserve Bank of Minneapolis 2017 yang dikutip oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi,
sekitar 92 persen faktur elektronik dibayar tepat waktu dibandingkan dengan 45 persen faktur dalam bentuk fisik.

Pada bulan April 2020, UOB mengumumkan akan menawarkan fasilitas pinjaman yang telah disetujui sebelumnya hingga
S$200.000 untuk membantu meringankan kesulitan likuiditas jangka panjang dari nasabah usaha kecil yang terkena dampak mempersiapkan masa depan bisnis mereka. Perusahaan yang mengubah model bisnis mereka untuk
jangka panjang, bahkan setelah COVID-19, akan lebih siap mengatasi tantangan saat ini sekaligus
menciptakan peluang bisnis baru.”
Keterangan lebih lengkap mengenai survei ini dapat diakses melalui ASEAN SME Transformation Study
2020 yang akan terbit pada pertengahan Juli 2020. Survei ini bertujuan untuk membantu bisnis kecil
ASEAN memahami bagaimana mereka dapat mengubah bisnis mereka untuk beradaptasi dengan
perubahan di masa depan dan berpartisipasi dalam pertumbuhan jangka panjang di kawasan ini.
Jika Anda tertarik untuk mendapatkan akses survei tersebut, kunjungi www.uobgroup.com/aseansme. (cim)