COVID-19 di Prancis Naik Drastis, Warga Dilarang Keras Keluar Rumah

oleh -
Ilustrasi Foto: Liputan6.com

WartaPenaNews, Prancis – Sebanyak 30.621 tambahan kasus infeksi COVID-19 dikonfirmasi pada Kamis, 15 Oktober 2020. Hanya dalam 24 jam, kasus tambahan tersebut menyita perhatian dunia, khususnya negara-negara di Eropa.

Diketahui, kasusnya naik drastis dari angka 22.591 pada hari sebelumnya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan bahwa pembatasan yang ketat “mutlak diperlukan” untuk menyelamatkan nyawa, tulis laporan BBC.

Jutaan orang di Eropa telah diberitahu bahwa mereka harus hidup di bawah langkah-langkah baru yang ketat saat pemerintah berjuang melawan gelombang kedua. Lantaran kondisi semakin krisis, mulai hari ini, bersosialisasi di dalam ruangan akan dilarang di London.

BACA JUGA:   Polri Perlu Gelar Perkara Internal untuk Tetapkan Tersangka Kebakaran Gedung Kejagung

Hal itu karena ibu kota Inggris dan daerah lain di Inggris akan ditempatkan di bawah peringatan COVID-19 yang lebih ketat. Selain Prancis, negara lain yakni Italia, Polandia, dan Jerman semuanya mencatat kenaikan harian terbesar mereka dalam kasus baru pada hari Kamis sejak pengujian massal dimulai.

Rusia mencatat jumlah kematian harian tertinggi sejak dimulainya epidemi dengan 286 orang dilaporkan meninggal karena virus. WHO mendesak pemerintah Eropa untuk meningkatkan dan mengambil tindakan saat benua itu melewati ambang 1.000 kematian yang dilaporkan setiap hari.

BACA JUGA:   Ini Harapan Ronald Koeman pada Lionel Messi

Pembatasan baru diumumkan pada hari Rabu, oleh Presiden Emmanuel Macron untuk memerangi tingkat infeksi yang melonjak di seluruh Prancis. Penduduk Paris, pinggiran kota dan delapan kota lainnya termasuk Marseille dan Lyon tidak akan dapat meninggalkan rumah mereka tanpa alasan yang masuk akal, antara pukul 21:00 dan 06:00.

Aturan itu dimulai sejak Sabtu selama setidaknya empat minggu. Mr Macron mengatakan aturan itu bertujuan untuk mengurangi kenaikan kasus harian menjadi 3.000.

Perdana Menteri Jean Castex mengatakan polisi akan dikerahkan untuk memberlakukan jam malam, tetapi orang masih akan diizinkan untuk pergi bekerja atau mengunjungi rumah sakit atau apotek. Di saat yang sama, pemerintah terus menghadapi kritik atas kekurangan peralatan medis dan waktu respons yang lambat. (mus)

BACA JUGA:   Ini 4 Kandidat Vaksin COVID-19 yang Siap Pakai di Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *