Industri Keuangan Syariah Indonesia Berpotensi Jadi Terbesar di Dunia

Dari kiri-kanan; Dosen Univ. Trilogi Muyassaroh, Analis Pengaturan dan Perizinan Perbankan Syariah OJK Reza Mustafa, CEO dan Founder PT Alami Fintek Syariah Dima Djani, Promotion Div. Head Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) Inza Putra, dan Pemimpin Div. Perencnaan Strategi Bank Syariah Misbanul Munir saat hadir jadi pembicara di acara "Literasi Syariah Goes To Campus" yang diselenggarakan Forum Warta Pena (FWP di Universitas Trilogi di Jakarta, Rabu (26/2)

WartaPenaNews, Jakarta – Indonesia diprediksi akan menjadi pasar keuangan syariah terbesar di dunia. Ini mengingat pertumbuhan sektor industri keuangan syariah di tanah air terus mengalami perkembangan.

Rektor Univeritas Trilogi Jakarta Prof. Mudrajat Kuncoro memprediksi sektor keuangan syariah, khususnya perbankan syariah bisa tumbuh 15 persen pada tahun ini. Sejumlah faktor ikut mendorong pertumbuhan tersebut.

“Mayoritas penduduk kita yang  muslim berpotensi mendongkrak pasar jadi terbesar dibandingkan Malaysia,” kata Mudrajat dlm acara “Literasi Keuangan Syariah Goes To Campus” yang diselenggarakan Forum Warta Pena bersama Universitas Trilogi di Jakarta, Rabu (26/2/2020).

Namun pertumbuhan ini tak lepas dari tantangan yang akan dihadapi industri tersebut. Menurut Mudrajat, prilaku masyakat masih yang menganggap bank syariah hanya diperuntukan bagi kaum muslim. Kedua, masih ada anggapan terkait penerapan sistem pada sektor keuangan syariah. “Orang sering beranggapan benchmark bank syariah masih menganut sistem bunga,” sambungnya.

Tantangan lainnya, terkait dengan ketersediaan sumber daya manusia (SDM). “Menurut OJK (Otoritas Jasa Keuangan diproyeksikan sektor industri syariah butuh SDM minimal 6.700 orang atau tumbuh 31 persen per tahun, mengikuti pertumbuhan bank syariah sebesar 15 persen,” terang Mudrajat.

Rektor Univeritas Trilogi Jakarta Prof. Mudrajat Kuncoro

Dari sisi pendidikan, sambung Mudrajat, pengembangan ilmu pendidikan keuangan dan akutansi syariah, serta literaturnya yang masih terbatas. “Literaturnya terbatas, dosen terbatas, dan pakarnya juga terbatas.” pungkasnya.

Pada acara ini hadir sebagai nara sumber antara lain, Analis Pengaturan dan Perizinan Perbankan Syariah OJK Reza Mustafa, Dosen Univ. Trilogi Muyassaroh, Pemimpin Div. Perencnaan Strategi Bank BNI Syariah Misbanul Munir, Promotion Div. Head Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) Inza Putra, dan CEO dan Founder PT Alami Fintek Syariah Dima Djani.

Pemimpin Div. Perencanaan Strategi Bank BNI Syariah Misbanul Munir mengakui pertumbuhan perbankam syariah mengalami perlambatan sejak dari tahun 2019 lalu. Jika pada tahun lalu sektor ini mengalami pertumbuhan sekitar 12-13 persen. Di tahun ini,  diprediksi akan tumbuh diangka 15 persen. “Pertumbuhan ini didorong masuknya sukuk syariah negara ke perbankan syatiah,” kata dia.

Pertumbuhan itu tak lepas dari adanya tantangan dalam menjaga kualitas dan portofolio pembiayaan terutama terhadap ketiga segment usaha, yakni kelas atas, bawah atau mikro, dan menengah. “Pada segment menengah, tantangannya adalah bagaimana kita bisa mensejahterakan rakyat dan membuat usahanya tetap survive,” terangnya.

Adapun sektor yang akan menjadi fokus BNI Syariah pada tahun ini, ada disektor pendidikan dan kesehatan. Kedua sektor ini menjadi perjatian besar pemerintah.

Sementara, Analis Pengaturan dan Perizinan Perbankan Syariah OJK Reza Mustafa mengatakan, pihaknya akan terus mendorong pertumbuhan industri keuangan syariah, khususnya ekosistem syariah.

Baca Juga: Duh Seksinya, Istri Romy Rafael Ini

“Ada tiga pilar yang akan kita dorong bagi pertumbuhan industri ini, yakni keuangan syariah, dana sosial Islam, dan sektor industri halal. Ketiga pilar ini harus terintegrasi satu sama lain agar ekonomi syariah itu bisa bergerak,” kata Reza.

Para nara sumber diskusi Literasi Keuangan Syariah Goes to Campuss saat berfoto bersama dengan para mahasiswa Universitas Trilogi Jakarta, Rabu (26/2).

Ia pun memprediksi sektor keuangan syariah akan terus tumbuh. Saat ini market share perbankan syariah sebesar 6,15 persen. Sementara keuangan syariah telah mencapai 9,01 persen.

Faktor lain yang ikut mendorong pertumbuhan sektor ini, munculnya kesadaran masyarakat terutama generasi milenial yang menganggap pentingnya faktor agama dalam sendi kehidupan. “Faktor ini juga didukung oleh industri halal kita yang berada di posisi 5 dunia,” pungkas Reza.

Promotion Div. Head Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) Inza Putra mengatakan, pangsa pasar perbankan syariah Indonesia sebesar 6,01% (sejak awal pendirian 1992). Untuk meningkatkan pangsa pasar, lanjut dia, memerlukan inovasi produk perbankan syariah. Selain itu, perlu didukung aspek penelitian dan pengembangan yang perlu terus didorong dan dikembangkan.

“Edukasi dan sosialisasi yang harus terus didorong dan bersifat inklusif.

Dan tak kalah penting diperlukan permodalan yang cukup, ” tambahnya. (rob)