Jika Kena Corona, Seberapa Besar Peluang Bertahan Hidup?

Pneumonia Misterius di China Disebabkan Virus Corona Jenis Baru. Foto: Suara.com

WartaPenaNews, Jakarta – Penasihat ilmiah pemerintah Inggris yakin bahwa kemungkinan untuk meninggal dunia akibat infeksi virus corona adalah antara 0.5% hingga 1%.

Angka ini lebih rendah daripada tingkat kematian dari kasus yang terkonfirmasi (confirmed case), yaitu 4% secara global, menurut data yang dikumpulkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Di Inggris Raya, hingga tanggal 23 Maret, tingkat kematian akibat virus corona adalah sekitar 5%.

Ini karena tidak seluruh infeksi dikonfirmasikan melalui tes.

India lockdown, kaum miskin ˜takut kelaparan akan membunuh kami lebih dulu. Kalau terkena, berapa lama kita akan sakit dan pertanyaan yang paling sering diajukan soal Covid-19 beserta jawabannya

Dari Gretha Thunberg, Tom Hanks, hingga arsitek perundingan damai Aceh, para tokoh dan selebritis yang terkena Covid-19

Hampir setiap negara punya kebijakan berbeda dalam menentukan siapa yang dites, maka membandingkan jumlah kasus dan tingkat kematian antar negara bisa menghasilkan kesimpulan yang keliru, kata Robert Cuffe, kepala Badan Statistik Inggris.

Tingkat kematian juga tergantung pada sejumlah faktor seperti umur, kondisi kesehatan secara umum, dan akses ke layanan kesehatan.

Risiko tergantung usia?

Orang tua dan orang yang punya penyakit lebih besar kemungkinan untuk meninggal dunia akibat virus corona.

Perkiraan terakhir dari Imperial College London, tingkat kematian hampir 10 kali lipat bagi orang berusia 80 tahun ke atas dan lebih rendah bagi yang berumur di bawah 40.

Baca Juga: WNI di LN Positif Corona 109 Orang, 1 Meninggal

Penasihat medis pemerintahan Inggris, Profesor Chris Whitty, mengatakan meskipun tingkat kematian lebih tinggi bagi orang-orang tua, kebanyakan orang tua hanya akan punya gejala ringan sampai sedang.

Ia juga mengingatkan bahwa infeksi ini tak bisa dianggap remeh bagi orang muda, sembari menyebutkan bahwa banyak orang muda yang terinfeksi dan harus dirawat di unit perawatan intensif.

Jadi, bukan hanya usia yang mempengaruhi risiko infeksi.

Dalam analisis massal untuk lebih dari 44.000 kasus di China, kematian ditemukan lima kali lebih banyak pada orang-orang yang mengidap diabetes, tekanan darah tinggi atau masalah pernapasan.

Seluruh faktor ini berinteraksi satu sama lain dan kita belum tahu gambaran utuh risiko bagi tiap jenis orang di lokasi-lokasi berbeda.

Dan bahkan ketika pola-pola yang membentuk tingkat kematian di berbagai kasus bisa mengungkap siapa yang paling berisiko, tetap saja kita tak bisa tahu risiko pastinya untuk kelompok-kelompok tertentu.

Tak mudah memastikan tingkat kematian

Kebanyakan kasus infeksi corona tidak terhitung karena orang cenderung tak mengunjungi dokter ketika mengalami gejala ringan.

Pada tanggal 17 Maret, kepala penasehat ilmiah pemerintah Inggris, Sir Patrick Vallance, memperkirakan ada sekitar 55.000 kasus di Inggris, saat kasus yang sudah dipastikan (confirmed case) di bawah angka 2.000.

Membagi tingkat kematian dengan angka 2.000, akan memberi hasil yang lebih besar daripada membaginya dengan angka 55.000.

Ini merupakan salah satu alasan utama mengapa tingkat kematian pada kasus yang sudah dipastikan menjadi perkiraan yang buruk untuk tingkat kematian sesungguhnya. Yaitu dengan membuat taksiran lebih tinggi padahal banyak kasus tak tercatat.

Namun ini juga bisa keliru untuk soal lain: memperkirakan tingkat kematian lebih rendah akibat tidak memasukkan orang-orang yang kini terinfeksi, tapi tidak dikonfirmasi, dan kemudian meninggal dunia.

Kenapa tingkat kematian berbeda antar negara?

Menurut riset yang dilakukan oleh Imperial College, kemampuan tiap negara berbeda untuk mendeteksi kasus dengan gejala ringan, sehingga sulit untuk mengkonfirmasi jumlah kasus.

Pengetesan virus juga berbeda antarnegara, dengan kemampuan melakukan pengetesan yang berbeda, serta aturan berbeda mengenai siapa yang dites. Faktor-faktor ini terus berubah seiring waktu.

Pemerintah Inggris berencana untuk meningkatkan kapasitas pengetesan hingga 10.000 per hari, dengan sasaran bisa mencapai 25.000 per hari dalam waktu empat minggu. (mus)