Kolaborasi Unilever dengan Perkumpulan Pemulung Indonesia Mandiri, Ubah Citra dan Tingkatkan Kesejahteraan Pemulung

oleh -

WartaPenaNews, Jakarta – Pemulung menjadi garda terdepan bagi industri daur ulang. Mengapresiasi keberadaan mereka, Unilever meluncurkan program Edukasi dan Pemberdayaan Masyarakat dengan mentarget 3.000 pemulung agar citranya kian baik.

Unilever sebagai perwakilan produsen menegaskan kembali komitmen jangka panjangnya untuk ikut membantu mengatasi permasalahan plastik, mulai dari hulu, tengah hingga akhir rantai bisnisnya. Sejalan dengan tema HPSN 2021 “Sampah Bahan Baku Ekonomi di Masa Pandemi”

Walau banyak meninggalkan permasalahan, jika dikelola dengan baik, sampah plastik dapat memberikan nilai ekonomi, sehingga menjadi peluang menuju pemulihan ekonomi nasional.

Unilever sebagai perwakilan produsen, menegaskan kembali komitmen jangka panjangnya, untuk ikut membantu mengatasi permasalahan plastik. Mulai dari hulu, tengah hingga akhir rantai bisnisnya. Sejalan dengan tema HPSN 2021 “Sampah Bahan Baku Ekonomi di Masa Pandemi” Unilever ingin menggaungkan pentingnya kolaborasi seluruh pelaku dari rantai nilai sampah, dalam mewujudkan ekonomi sirkular. Termasuk para pemulung yang mendukung industri daur ulang.
Sayangnya nasib pemulung masih termaginalisasi dengan hadirnya beragam tantangan, serta stigma negatif masyarakat.

BACA JUGA:   256 Wanita Dijadikan PSK, 91 Masih di Bawah Umur

Sebagai langkah nyata dalam memberdayakan pemulung dengan mengoptimalkan peranan mereka, sekaligus meningkatkan kesejahteraan mereka. Unilever Indonesia menjalin kerjasama dengan Perkumpulan Pemulung Indonesia Mandiri (PPIM) memberikan rangkaian program dukungan untuk memperbaiki citra kehidupan dan penghidupan mereka.

Sektor Pengelolaan Sampah Kian Berpotensi di Masa Pandemi

Nurdiana Darus, Head of Corporate Affairs and Sustainability PT Unilever Indonesia Tbk. menerangkan, “Unilever Indonesia terus berkomitmen membantu mengatasi permasalahan plastik, mulai dari hulu, tengah, hingga hilir rantai bisnisnya. Kami percaya, bahwa plastik sebagai bagian tak terpisahkan dari keseharian, memiliki tempat tersendiri di dalam ekonomi, tidak seharusnya tercecer begitu saja.
Studi terbaru yang kami laksanakan bersama Sustainable Waste Indonesia (SWI) memperlihatkan bahwa dari 189.349 ton sampah plastik, rata-rata per bulan yang dihasilkan di Pulau Jawa, hanya 11,83 % yang dapat dikumpulkan. Sementara sisanya sebanyak 88,17% berakhir di TPA atau tidak terangkat sehingga menyebabkan pencemaran lingkungan.”

BACA JUGA:   Moeldoko Kaget Masalah Demokrat Masih Berlanjut hingga SBY Turun

Dr. Ir. Novrizal Tahar, IPM, Direktur Pengelolaan Sampah, Direktorat Jenderal Kehutanan Republik Indonesia mengatakan, “Potensi pengelolaan sampah untuk mendukung perekonomian kian terlihat nyata selama pandemi. Badan Pusat Statistik melaporkan, sektor pengadaan air, pengelolaan sampah, dan limbah merupakan tiga dari tujuh dari sektor yang masih bertumbuh secara positif, yaitu 6,04%. Ini menjadi kabar baik, karena bidang pengelolaan sampah adalah sektor usaha yang terus mengeliat. Melalui peringatan HPSN 2021, Pemerintah mendorong kolaborasi dari seluruh mata rantai nilai sampah menuju terciptanya ekonomi sirkular sebagai babak baru pengelolaan sampah di Indonesia. ”

Dr. Alin Halimatussadiah, Ph. D, Ketua Kajian Ekonomi Lingkungan, LPEM FEB UI berpendapat, “Agar mampu memberikan dampak ekonomi yang nyata, perwujudan ekonomi sirkular harus melibatkan peran dan fungsi setiap pelaku rantai nilai sampah yang terdiri dari banyak pihak. Pemulung memiliki peran sentral yang patut diperhatikan karena mereka berjasa mengumpulkan sampah sebagai bahan baku yang mendukung industri daur ulang. Oleh karena itu, sudah saatnya kita melekatkan para pemulung ke dalam kesatuan rantai nilai pengelolaan sampah yang lebih utuh.”

BACA JUGA:   KPK OTT Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah

Hasil studi Unilever Indonesia dengan SWI lebih dari 80% sampah plastik yang terkumpul di Pulau Jawa berasal dari pemulung. 20% sisanya berasal dari bank sampah, TPS3R dan penampung sampah plastik lainnya.

Prispolly Davina Lengkong, Ketua Umum PPIM turut berbagi, “Tantangan yang dihadapi para pemulung semakin berat ketika pandemi. Banyaknya pembatasan sosial membuat mereka sulit bermobilisasi, mereka membutuhkan dukungan kita semua.
Untuk itu, Unilever Indonesia dan PPIM meluncurkan kerjasama baru, menargetkan 3.000 pemulung sebagai penerima manfaat dari rangkaian program edukasi dan pemberdayaan masyarakat. Program edukasi meliputi pelatihan literasi keuangan, ketrampilan berkomunikasi, hingga perilaku hidup bersih dan sehat. Diharapkan dapat menjadi modal dasar bagi mereka untuk meningkatkan kualitas hidup. ” (bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *