Peter: Melalui Wahyoo, Warteg Tradisional Naik Level

WartaPenaNews, Jakarta-Dimulai dari komitmen ingin membantu memajukan warteg dan warung makan tradisional. Peter Shearer akhirnya memutuskan untuk mendirikan Wahyoo, yakni aplikasi digital yang ditujukan untuk membantu para pemilik warteg agar lebih maju dan sejahtera.

CEO dan Founder Wahyoo ini memaparkan perusahaan rintisan yang bergerak dalam pengelolaan warung makan ini didirkan sejak tahun Mei 2017 lalu dan perusahaan dalam bentuk Perseroan Terbatas (PT) baru ada pada Juli 2018. Jumlah mitra awal mula 50 mitra warung, dan sampai akhir 2017 sekitar 200 mitra.

Meskipun demikian startup Wahyoo kini sudah berkembang jadi platform layanan yang memudahkan pengusaha makanan kecil.

“Setidaknya hingga 2018 ini sudah ada 6.000 warteg dan warung makan kecil di Jabodetabek yang bergabung. Kedepan Wahyoo, menargetkan dapat menggaet 13.000 mitra sampai akhir 2019. Pada 2020, baru kita mulai ekspansi di Jawa, atau kota besar lainnya,” ungkap CEO muda ini bersemangat.

Tak main-main perkembangan bisnis perusahaan Wahyoo cukup menggembirakan. Dalam 1,5 tahun perjalanannya, Wahyoo sudah dapat dua penghargaan. Pertama, The Best Newcomer Start Up dari Tempo, dan kedua, Best Start Up for UKM dari Gojek, yang diberikan langsung oleh Presiden Joko Widodo.

“Itu sangat memorable bagi saya. Rasanya luar biasa, saat Pak Jokowi bilang, apa yang kamu lakukan bagus ini,”  kenang Peter Shearer.

“Saya punya mimpi membawa makanan Indonesia ini ke luar negeri”

Ditangan Peter, Wahyoo memiliki mimpi besar untuk memiliki standarisasi warung, yang akhirnya bisa buka di luar negeri. Dengan kata lain, warung makan yang telah memiliki standar Wahyoo, akan menjadi makanan asli Indonesia yang telah layak untuk hadir di luar negeri.

“Filipina punya produk Jollibee, Amerika Serikat punya Mc’Donalds, kita juga ingin warung Wahyoo bisa seperti itu sebagai brand fastfood yang Indonesia banget, dan diketahui orang,” imbuhnya.

Wahyoo juga bercita-cita menjadi seperti Mc’Donalds, karena memiliki standar yang sama di negara manapun. Standar dan kualitas inilah yang penting untuk mengangkat sebuah brand.

Disisi lain, Peter melihat bahwa masih banyak warteg dan warung makan yang sudah buka sejak puluhan tahun, namun kondisinya tidak berubah, bahkan cenderung memprihatinkan. Padahal kondisi industri makanan di Indonesia sudah berkembang pesat, apalagi dengan kehadiran teknologi canggih.

“Saat ini kita fokusnya masih business to business, di mana kita merangkul pengusaha warung makannya. Memudahkan usaha mereka,” ungkap Peter.

Dilanjutkan Peter model bisnis Wahyoo membuat banyak pihak diuntungkan. Startup digital ini tak hanya menyediakan aplikasi B2B untuk pemilik warung sehingga mereka bisa membeli bahan baku yang pengirimannya gratis, tetapi juga menghubungkan dengan sponsor dari merek besar, serta memberdayakan warung itu sendiri. Salah satunya, lewat pelatihan, dengan mendirikan Wahyoo Academy.

“Jadi para pemilik warung makan tidak perlu lagi repot-repot belanja ke pasar, atau membawa belanjaan berat-berat. Karena mereka bisa langsung belanja bahan makanan yang dibutuhkan lewat aplikasi Wahyoo. Nantinya semua bahan makanan ini akan dikirimkan langsung ke warung makan mereka. Tentunya penyediaan bahan makanan ini dikemas dengan harga yang kompetitif, serta jasa pengiriman yang gratis,” papar Peter lebih lanjut.

Lebih dari itu, Wahyoo juga membantu para pemilik warung makan ini untuk mempromosikan usaha mereka. Salah satunya dengan membuatkan poster, merenovasi ulang warung makan yang ada sehingga tampil lebih menarik.

“Bahan baku makanan yang kita tawarkan ke pemilik warung makan, sebelumnya sudah Wahyoo kurasi dulu dan berkualitas,” ucap Peter, yang juga menggagas tren bagi-bagi makanan lewat #WahyooChallenge.

Dari sisi transaksi mitra juga mengalami pertumbuhan. Pada 2018 transaksi Rp1,5 miliar, sedangkan sampai Mei 2019 sudah Rp2 miliar. Tahun ini transaksi mitra bisa mencapai Rp Rp10 miliar.