17 June 2024 - 01:18 1:18

Ekspor Tempe Dinilai Tak Mampu Tingkatkan Neraca Perdagangan

WartaPenaNews, Jakarta – Pemerintah berencana akan melakukan ekspor tempe. Polemik pun terjadi, karena ekspor tempe dinilai tidak akan meningkatkan neraca perdagangan Indonesia.

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengatakan, Indonesia sedang mempersiapkan untuk ekspor tempe ke luar negeri. Ini adalah pertama kali dilakukan Indonesia.

Enggartiasto mengungkapkan, ekspor diinisiasi oleh Gabungan Koperasi Tahu dan Tempe Indonesia (Gakoptindo). Namun Enggartiasto belum bisa bicara banyak ke mana saja tujuan ekspor tempe. Selain itu, kata mendag, saat ini Gakoptindo tengah mencari cara bagaimana tempe bisa bertahan lama.

“Jadi kita mesti temukan teknologi pangannya supaya gimana itu bisa awet. Tempe, makanan terenak di dunia. Saya tiap hari mesti ada tempe tahu,” ucap Enggartiasto di Jakarta, Jumat (1/2) lalu.

Menanggapi pemerintah berencana mengimpor tempe, pengamat pertanian Dwi Andreas Santosa menilai, impor tempe tak akan akan mampu mendorong neraca perdagangan RI. Dia mencatat, neraca perdagangan Indonesia minus sebesar 7,8 miliar dolar AS di 2018.

“Iya sah-sah saja impor tempe. Gak masalah bisa-bisa saja. Hanya saja tidak signifikan (buat neraca perdagangan),” kata Dwi.

Dia menjelaskan, dari sisi volume matrik ekspor tempe tidak akan meningkatkan neraca perdagangan. Karena, menurut dia, tempe tidak bisa disimpan dalam waktu lama dan pasar ekspor terbatas hanya di Singapura dan Malaysia. “Kalau ke Eropa, Eropa saja bikin (tempe) sendiri,” ujarnya.

Sementara pemerhati pertanian Juli Yulianto mengatakan, selama ada permintaan dari luar negeri, ekspor tempe bisa menghasilkan devisa.

“Artinya kita keluar devisa untuk impor kedelai, tapi bisa menghasilkan devisa dari ekspor tempe. Namun memang persoalannya bahan baku tempe kita masih banyak dari kedelai impor,” ujar Juli.

Nah, kata Juli, Ini yang harus pemerintah selesaikan dan menjadi pekerjaan rumah bagaimana agar kita bisa memenuhi bahan baku tempe tersebut dari dalam negeri. Apalagi kedelai untuk tempe berbeda dengan untuk tahu. Biasanya pelaku industri tempe lebih menginginkan biji kedelai yang besar.

“Untuk itu, bagaimana caranya pemerintah bisa mendorong produksi kedelai dengan standar yang sesuai dengan industri tempe yakni yang bijinya besar. Varietas unggul kedelai biji besar di Indonesia sebenarnya sudah ada di Grobogan, Jawa tengah yang merupakan salah satu sentra kedelai nasional sudah ada rumah tempe higenis,” tutur dia.

“Sayangnya memang upaya mendorong peningkatan produksi kedelai nasional tidak mudah karena adanya persaingan lahan dengan komoditas lainnya seperti jagung dan padi,” tambahnya. (dbs)

Follow Google News Wartapenanews.com

Jangan sampai kamu ketinggalan update berita menarik dari kami.

Berita Terkait

|
15 June 2024 - 13:16
Libur Iduladha, Penumpang Kereta di Yogyakarta Meningkat

WARTAPENANEWS.COM – Jelang Idul Adha 2024, penjualan tiket kereta api jarak jauh keberangkatan awal stasiun di Daop 6 mengalami peningkatan. Total ada 88.401 tiket yang terjual untuk tanggal 13 Juni

01
|
15 June 2024 - 12:37
Sepanjang 2024, 1.008 Kecelakaan Lalu Lintas Terjadi di Bantul

WARTAPENANEWS.COM – Polres Bantul mencatat sepanjang Januari hingga Juni 2024 ini ada 1.008 kecelakaan lalu lintas di Kabupaten Bantul. Dari jumlah itu, 1.258 orang luka ringan dan 71 orang meninggal

02
|
15 June 2024 - 12:14
Jalanan di Jakarta Lengang saat Libur Panjang Idul Adha

WARTAPENANEWS.COM – Long weekend Hari Raya Idul Adha membuat sejumlah ruas jalan di Jakarta tampak lengang dari padatnya kendaraan. Idul Adha akan dirayakan pada Senin (17/6) mendatang. Libur panjang digunakan

03