Lezat Eksotis Kuliner Legend Kepala Manyung Bu Fat

Banik Yoandanny, Generasi ke 3 Bu Fat Sukses Mengawal Citarasa Otentik. Foto: Foto: bud dan Dok. Banik Yoandanny.

WartaPenaNews, Jakarta – Kuliner legendaris yang diolah dari dapur rumah secara turun temurun menjadi buruan bagi foodie. Alasannya karena menjadi komoditi yang langka, dan tersaji istimewa.

Bernilai Dari Status Simbol Penikmatnya

Bagi pelaku usaha, berbisnis kuliner legendaris atau klangenan, dianggap berisiko, butuh waktu dan usaha untuk menghadirkan bahan dan proses pengolahan. Apalagi ada teknik khusus agar citarasanya menjadi khas.
Namun, jika masih ada pelaku kuliner yang berbisnis kuliner legendaris dengan totalitas untuk mempertahankan rasa dan teknik pengolahan, hal ini patut di apresiasi.

William W Wongso, Master kuliner Indonesia pernah menyampaikan, “Bahwa atas inisiatif berkelanjutan oleh para pelaku, kuliner legendaris terjaga kelestariannya, membawa cerita nikmat bagi generasi sekarang yang bisa tetap menikmati kelezatannya. Kuliner legendaris akan selalu memiliki daya pikat buat foodie dan masyarakat karena keunikan dan kelangkaannya. Serta tak akan mampu digempur oleh keberadaan menu import.
Jika diakomodir dengan baik oleh pelaku serta diapresiasi masyarakat, akan menjadi kuliner identitas Indonesia.

Di luar negeri terutama di negara Eropa, keberadaan kuliner legend, membuat penikmatnya memiliki status simbol terhormat. Dan tidak usah galau, jika harganya pun terbilang mahal karena beragam keistimewaannya tersebut. Selain terselip cerita dan sejarah menarik seputar kehadirannya.

Perayaan Rasa Dari Totalitas Generasi ke 3

Rumah makan Kepala Manyung Bu Fatimah atau populer dengan nama Bu Fat, menjadi salah satu ikon kuliner Legend yang ada di Jakarta. Setelah sukses menghadirkan usaha perdana di Cempaka Putih, Jak-Pus, kini menyusul gerai ke dua di bilangan Cipete Raya, Jak-Sel.

Banik Yoandanny, cucu Ibu Fat, sukses mempromosikan kuliner klangenan masyarakat Semarang ini, dengan memperhatikan sajian otentik, menyelaraskan dengan lidah masyarakat dengan beragam etnis dan lintas generasi.

Rumah makan Kepala Manyung Bu Fat, menyajikan highlight kuliner berbahan ikan asap, dengan sajian utamanya kepala ikan manyung. Ikan yang identik dengan produk olahan jambal roti, merupakan komoditi utama laut Jawa Tengah.

Ibu Fat mampu menghadirkan olahan khas nan lezat dengan mengasap ikan menggunakan teknik tradisional. Ikan dan kepala ikan dikeringkan dengan diasap menggunakan tempurung kelapa selama 1,5 hingga 2 jam. Untuk bagian kepala, efek asap tidak akan mengeringkan bagian kepala yang diasap utuh, namun hanya mengeringkan bagian luar untuk mendapatkan efek smoky yang nikmat.

Kepala manyung yang akan diasap harus segar dan baru ditangkap, lingkungan tempat pengasapan harus terjaga kebersihannya, agar hasilnya lezat.

Kepala Manyun Bu Fat, Kuliner Prestise Menjadi Status Simbol Penikmatnya. Foto: bud dan Dok. Banik Yoandanny.

Penjaga Rasa Lintas Generasi

Resep Kepala Manyung kreasi Bu Fat ini berawal dari sebuah warung makan sederhana di tahun 1969 di kota Semarang. Kepala Manyung memiliki keistimewaan dari jenis kepala ikan lainnya, selain gurih, dagingnya banyak dan tebal, namun teksturnya cukup lembut tetapi kenyal, sehingga tidak mudah hancur ketika dimasak.

Bu Fat selaku perintis, mampu menghadirkan olahan klangenan buat masyarakat setempat dan wisatawan. Penikmat yang meluas serta mengakomodir keinginan pelanggan di Jakarta, Rumah Makan Kepala Manyung Bu Fat hadir di Jakarta.

Berkat olahan kreatif Bu Fat, kini kuliner klangenan kepala manyung menjadi ikon Semarang, serta banyak dijadikan inspirasi bisnis oleh pelaku kuliner lain di Semarang.

Pada waktu makan siang di cabang ke dua rumah makan kepala manyung Bu Fat di daerah Cipete Raya, pengunjung memburu olahan istimewa kepala manyung. Di sini, tersedia 4 varian ukuran kepala manyung, dari yang kecil, sedang, besar dan jumbo yang didatangkan dalam keadaan frozen langsung dari Semarang. Untuk menjaga kualitas, kami memiliki sentra pengasapan sendiri. Walau diasap, kepala ikan akan berair dan mudah rusak jika disimpan dalam suhu ruang.

Olahan favorit adalah yang berkuah santan, bewarna kuning dengan taburan cabai rawit utuh. Rasa kuahnya berbumbu pekat , harmonisasi dari pedas dan gurih yang dominan, serta berpadu sempurna dengan efek rasa asap. Nikmat sekali disantap selagi hangat dengan menggunakan tangan. Bagian atas kepala menjadi favorit pengunjung, karena rasanya terbilang lezat.

Agar sajian senantiasa nikmat, Banik memastikan kuah kepala manyung harus dipanaskan terlebih dahulu sebelum sampai ke meja pengunjung.

Kanvas Kuliner Makanan Ngampung Semarangan

Pelengkap yang tepat untuk sajian kepala manyung adalah cah bunga pepaya dan cah daun pepaya. Selain sambal jengkol dan petai yang beraroma sedap.

Selain kepala ikan, tersedia olahan badan ikan manyung. Bagi yang kurang familiar dengan rasa pedas, bisa meminta olahan yang tidak pedas. Variasi lain yang wajib dicoba adalah menu ikan manyung
berupa sambal penyet iwak pe’ panggang. Iwak pe atau ikan pe’ merupakan nama lokal untuk ikan manyung asap.

Selain olahan berbahan manyung, ada banyak varian menu ngampung ala masyarakat Semarang diantaranya, garang asam ayam kampung, cumi masak hitam, tumis kikil, botok petai cina, gimbal udang dan bakwan jagung yang kesemuanya tersaji otentik dan sangat lezat.

Pada sebuah meja saji panjang, kesemua kuliner tersaji matang, dan menjadi kanvas kuliner masyarakat Semarang yang dapat langsung dipilih dan dinikmati pengunjung.

Banik menyampaikan, “pesan otentik kuliner Semarang ala rumahan keluarga Bu Fat oleh generasi ke 3 tersampaikan dengan baik. Saya tidak berniat menawarkan franchise walau banyak permintaan. Quality control harus dilakukan setiap hari, menjadi tanggung jawab saya, untuk memastikan mutu dan kelezatan sajian agar sesuai dengan standar Bu Fat.”

Kehadiran kepala manyung Bu Fat di Jakarta sudah tentu menambah kompendium kuliner masyarakat Jakarta yang multi etnis dan menjadi oase jika Anda kangen dengan menu warisan kuliner bangsa yang adiluhung. (bud).

Foto: bud dan Dok. Banik Yoandanny.

Lezat Eksotis Kuliner Legend Kepala Manyung Bu Fat

Kuliner legendaris yang diolah dari dapur rumah secara turun temurun menjadi buruan bagi foodie. Alasannya karena menjadi komoditi yang langka, dan tersaji istimewa.

Bernilai Dari Status Simbol Penikmatnya

Bagi pelaku usaha, berbisnis kuliner legendaris atau klangenan, dianggap berisiko, butuh waktu dan usaha untuk menghadirkan bahan dan proses pengolahan. Apalagi ada teknik khusus agar citarasanya menjadi khas.
Namun, jika masih ada pelaku kuliner yang berbisnis kuliner legendaris dengan totalitas untuk mempertahankan rasa dan teknik pengolahan, hal ini patut di apresiasi.

William W Wongso, Master kuliner Indonesia pernah menyampaikan, “Bahwa atas inisiatif berkelanjutan oleh para pelaku, kuliner legendaris terjaga kelestariannya, membawa cerita nikmat bagi generasi sekarang yang bisa tetap menikmati kelezatannya. Kuliner legendaris akan selalu memiliki daya pikat buat foodie dan masyarakat karena keunikan dan kelangkaannya. Serta tak akan mampu digempur oleh keberadaan menu import.
Jika diakomodir dengan baik oleh pelaku serta diapresiasi masyarakat, akan menjadi kuliner identitas Indonesia.

Di luar negeri terutama di negara Eropa, keberadaan kuliner legend, membuat penikmatnya memiliki status simbol terhormat. Dan tidak usah galau, jika harganya pun terbilang mahal karena beragam keistimewaannya tersebut. Selain terselip cerita dan sejarah menarik seputar kehadirannya.

Perayaan Rasa Dari Totalitas Generasi ke 3

Rumah makan Kepala Manyung Bu Fatimah atau populer dengan nama Bu Fat, menjadi salah satu ikon kuliner Legend yang ada di Jakarta. Setelah sukses menghadirkan usaha perdana di Cempaka Putih, Jak-Pus, kini menyusul gerai ke dua di bilangan Cipete Raya, Jak-Sel.

Banik Yoandanny, cucu Ibu Fat, sukses mempromosikan kuliner klangenan masyarakat Semarang ini, dengan memperhatikan sajian otentik, menyelaraskan dengan lidah masyarakat dengan beragam etnis dan lintas generasi.

Rumah makan Kepala Manyung Bu Fat, menyajikan highlight kuliner berbahan ikan asap, dengan sajian utamanya kepala ikan manyung. Ikan yang identik dengan produk olahan jambal roti, merupakan komoditi utama laut Jawa Tengah.

Ibu Fat mampu menghadirkan olahan khas nan lezat dengan mengasap ikan menggunakan teknik tradisional. Ikan dan kepala ikan dikeringkan dengan diasap menggunakan tempurung kelapa selama 1,5 hingga 2 jam. Untuk bagian kepala, efek asap tidak akan mengeringkan bagian kepala yang diasap utuh, namun hanya mengeringkan bagian luar untuk mendapatkan efek smoky yang nikmat.

Kepala manyung yang akan diasap harus segar dan baru ditangkap, lingkungan tempat pengasapan harus terjaga kebersihannya, agar hasilnya lezat.

Penjaga Rasa Lintas Generasi

Resep Kepala Manyung kreasi Bu Fat ini berawal dari sebuah warung makan sederhana di tahun 1969 di kota Semarang. Kepala Manyung memiliki keistimewaan dari jenis kepala ikan lainnya, selain gurih, dagingnya banyak dan tebal, namun teksturnya cukup lembut tetapi kenyal, sehingga tidak mudah hancur ketika dimasak.

Bu Fat selaku perintis, mampu menghadirkan olahan klangenan buat masyarakat setempat dan wisatawan. Penikmat yang meluas serta mengakomodir keinginan pelanggan di Jakarta, Rumah Makan Kepala Manyung Bu Fat hadir di Jakarta.

Berkat olahan kreatif Bu Fat, kini kuliner klangenan kepala manyung menjadi ikon Semarang, serta banyak dijadikan inspirasi bisnis oleh pelaku kuliner lain di Semarang.

Pada waktu makan siang di cabang ke dua rumah makan kepala manyung Bu Fat di daerah Cipete Raya, pengunjung memburu olahan istimewa kepala manyung. Di sini, tersedia 4 varian ukuran kepala manyung, dari yang kecil, sedang, besar dan jumbo yang didatangkan dalam keadaan frozen langsung dari Semarang. Untuk menjaga kualitas, kami memiliki sentra pengasapan sendiri. Walau diasap, kepala ikan akan berair dan mudah rusak jika disimpan dalam suhu ruang.

Olahan favorit adalah yang berkuah santan, bewarna kuning dengan taburan cabai rawit utuh. Rasa kuahnya berbumbu pekat , harmonisasi dari pedas dan gurih yang dominan, serta berpadu sempurna dengan efek rasa asap. Nikmat sekali disantap selagi hangat dengan menggunakan tangan. Bagian atas kepala menjadi favorit pengunjung, karena rasanya terbilang lezat.

Agar sajian senantiasa nikmat, Banik memastikan kuah kepala manyung harus dipanaskan terlebih dahulu sebelum sampai ke meja pengunjung.

Antrian Pengunjung Lintas Generasi dan Etnis Pada Jam Makan di Gerai Cipete Raya.Foto: bud dan Dok. Banik Yoandanny.

Kanvas Kuliner Makanan Ngampung Semarangan

Pelengkap yang tepat untuk sajian kepala manyung adalah cah bunga pepaya dan cah daun pepaya. Selain sambal jengkol dan petai yang beraroma sedap.

Selain kepala ikan, tersedia olahan badan ikan manyung. Bagi yang kurang familiar dengan rasa pedas, bisa meminta olahan yang tidak pedas. Variasi lain yang wajib dicoba adalah menu ikan manyung
berupa sambal penyet iwak pe’ panggang. Iwak pe atau ikan pe’ merupakan nama lokal untuk ikan manyung asap.

Selain olahan berbahan manyung, ada banyak varian menu ngampung ala masyarakat Semarang diantaranya, garang asam ayam kampung, cumi masak hitam, tumis kikil, botok petai cina, gimbal udang dan bakwan jagung yang kesemuanya tersaji otentik dan sangat lezat.

Pada sebuah meja saji panjang, kesemua kuliner tersaji matang, dan menjadi kanvas kuliner masyarakat Semarang yang dapat langsung dipilih dan dinikmati pengunjung.

Banik menyampaikan, “pesan otentik kuliner Semarang ala rumahan keluarga Bu Fat oleh generasi ke 3 tersampaikan dengan baik. Saya tidak berniat menawarkan franchise walau banyak permintaan. Quality control harus dilakukan setiap hari, menjadi tanggung jawab saya, untuk memastikan mutu dan kelezatan sajian agar sesuai dengan standar Bu Fat.”

Kehadiran kepala manyung Bu Fat di Jakarta sudah tentu menambah kompendium kuliner masyarakat Jakarta yang multi etnis dan menjadi oase jika Anda kangen dengan menu warisan kuliner bangsa yang adiluhung. (bud)