Kisah Orang Yahudi yang Lolos dari Tragedi Pembantaian Nazi

17

WartaPenaNews, Jakarta – Ada sebuah foto hitam putih yang sudah berada pada keluarga ane selama bertahun-tahun. Menyerupai foto sekolah saat beberapa anak berbaris memandang ke kamera.

Tahun 1945, mereka ialah beberapa anak Yahudi dan mereka di Praha, Republik Ceko saat ini. Sejumlah besar dari mereka barusan dibebaskan dari kamp konsentrasi Theresienstadt, di dekatnya.

Mereka berdiri bersisihan, sejumlah tersenyum, tetapi ada wajah tanpa ekspresi dan yang yang lain kelihatan cemberut.

Mereka barusan bebas dari horor Holokos. Sejumlah besar orang tua mereka tidak selamat, dan mereka saat ini yatim piatu.

Praha pada bulan Mei 2019 mudah dikenali. Patung yang sama di latar belakang, jalan berbatu yang sama dan jendela putih rumah sekitar yang elok.

Serta beberapa dari beberapa anak di foto sebelumnya datang. Mereka kembali dengan suami, istri, anak dan cucu untuk merayakan keselamatan mereka.

Mereka kembali untuk ambil foto baru: foto keluarga yang selayaknya tidak ada.

Ane akan datang di foto itu, bersama-sama dua belas orang bagian keluarga ane – tetapi ane seorang wartawan yang akan menceritakan narasi di baliknya.

Kakek ane, David Herman, salah satunya anak yang selamat – ia selamat dari lima kamp konsentrasi: Auschwitz, Auschwitz-Birkenau, Buchenwald, Rhemsdorf dan Theresienstadt.

Horor

Perjalanan ane dimulai di Manchester, dimana dua korban selamat yang tahu kakek ane saat ini hidup.

Mereka menyambut kami dengan hangat di rumah mereka. Saat ane mulai menanyakan horor yang mereka alami, ruangan berubah menjadi sunyi.

Ini ialah untuk kali pertamanya ane dengar pengalaman korban selamat secara langsung.

Walau sebenarnya ane sudah sudah pernah ke kamp konsentrasi, Auschwitz dan Theresienstadt.

“Kami menyaksikan kematian setiap waktu”

Sam Laskier saat ini berusia 91 tahun. Ia memperlihatkan tato di lengannya. Huruf dan angka berwana hijau pada kulitnya.

“Kami menyaksikan kematian setiap waktu,” ujarnya.

Ia memberi tahu berbagai realitas, tetapi emosinya ada dalam hati. Ia masih punya mimpi jelek tentang kamp.

Lapar

“Bagaimana rasanya berubah menjadi remaja di kamp konsentrasi Nazi?” saya menanyakan.

Perasaaan yang terus-terusan nampak ialah rasa lapar. Hidup tanpa sadari kapan Anda akan makan kembali.

“Kami kuatir dari tempat mana kami mendapatkan potongan roti seterusnya karena kami lapar. Kami kelaparan,” kata Alterman, 91 tahun.

Kebebasan

“Ini ialah saat kami sadari para penjaga telah lenyap dan kami bebas.” – Ike Alterman

“Ini ialah saat dimana kami sadari jika para penjaga telah lenyap dan kami diberitahu telah bebas. Itu ialah ane, yang sedang angkat topi,” kata Ike, menunjuk ke sebuah gerbong.

“Kami diskedulkan digas esok paginya karena mereka tidak akan bawa kami ke lain tempat dan kami sadari ada sebuah krematorium di Theresienstadt.”

Kebebasan. Muka Sam berubah menjadi cerah.

“Praha bawa daya ingat manis,” ujarnya, “karena disanalah ane dibebaskan.”

Kebanyakan orang yang bebas cuma tertarik untuk isi perut mereka setelah bertahun-tahun kelaparan. (mus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here