Positif COVID-19, Bolehkah Menyusui?

oleh -
ilustrasi menyusui saat covid-19
Ilustrasi menyusui saat positif Covid-19. Foto: iStock

WartaPenaNews, Jakarta – Ahli laktasi Dr dr Ray Wagiu Basrowi MKK membagikan beberapa cara bagi para ibu yang menyusui agar tetap bisa memberikan Air Susu Ibu (ASI) pada bayinya baik pada saat ibu terpapar COVID-19 atau sebaliknya ketika anaknya justru terpapar COVID-19.

“Menyusui secara langsung itu cara yang terbaik ya. Kalau volumenya banyak, ya distok untuk disimpan. Perlu diingat kalau ibunya sudah terkonfirmasi positif COVID-19 dan anaknya negatif lalu isolasi mandiri, ini jangan rawat gabung ya. Anaknya dipisah,” kata dokter Ray dalam konferensi pers virtual, Rabu (4/8).

Dokter lulusan Magister FKUI itu pun menyebutkan ibu hanya boleh bersentuhan badan ketika memberikan ASI kepada anak, pastikan ibu yang menyusui menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) berupa masker dan baju panjang sehingga meminimalkan penularan virus dari cairan atau pun sirkulasi udara.

Ibu pun diminta untuk tidak melakukan interaksi dengan bayi misalnya mencium atau mengajak ngobrol anaknya pada saat proses pemberian ASI berlangsung.

Langkah ini lebih dianjurkan untuk ibu menyusui yang terkonfirmasi sebagai pasien tanpa gejala.

“Jika bergejala ringan ya misalnya dan ragu- ragu mau memberikan ASI. Ibu bisa melakukan pemompaan ya. Selama 10 hari masa isolasi itu susunya dipompa. Disterilkan sebelum mau diberi kepada anak. Cara sterilnya juga mudah tidak usah pakai alat yang mahal. Siapkan air panas dengan suhu 60-70 derajat celcius lalu celupkan sebentar botol yang berisi ASI sebelum diberikan kepada anak,” kata pendiri Health Collaborative Center (HCC) itu.

Pemberian ASI dilakukan oleh ayah atau anggota keluarga lainnya yang tidak terkonfirmasi positif bisa menggunakan sendok kecil agar anak bisa tetap mendapatkan ASI.

“Saat sedang positif, intinya pemberian ASI tetap harus tetap dilakukan karena seperti yang banyak penelitian paparkan pemberian ASI kepada bayi justru memberikan antibodi spesifik agar anaknya memiliki kekebalan tubuh dari COVID-19,” ujar dokter Ray.

Lalu bagaimana jika kondisi yang terjadi adalah sebaliknya, anak yang positif COVID-19 sementara orang tua justru negatif dari virus SARS-CoV-2?

Dokter Ray menyarankan pemberian susu secara langsung tetap perlu dilakukan oleh Ibu dengan metode serupa yaitu penggunaan APD berupa masker dan baju lengan panjang.

“Bayi yang isolasi mandiri tidak mungkin kan dibiarkan begitu saja tetap harus diurus. Jadi tetap perlu diberikan saja ASI-nya ibu tetap menyusui dengan protokol kesehatan dengan kontak fisik seminim mungkin,” katanya.

Jika ternyata bayi harus mendapatkan perawatan di rumah sakit akibat COVID-19, sebisa mungkin titipkan ASI yang sudah dipompa untuk kemudian diberikan oleh tenaga kesehatan yang merawat bayi hingga sembuh. (wsa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.